Selamat Datang di Website Universitas Muhammadiyah Gresik


Pemetaan Kompetensi Guru

2012-04-16 | By Administrator


Uji Kompetensi Awal (UKA) calon peserta PLPG 2012 akhirnya selesai dilaksanakan secara serentak di  33 provinsi di seluruh Indonesia (25/2/2012). Meskipun menjelang pelaksanaan sempat mendapat protes dari berbagai pihak yang tidak sepakat dengan diadakannya ujian awal tersebut. Beberapa guru di daerah melayangkan protes keras agar UKA dibatalkan, bahkan PGRI menolak diadakan UKA dengan alasan dianggap menyalahi undang-undang. Padahal dengan jelas berdasarkan UU RI No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen serta PP RI No. 19 tahun 2005 tentang Standar Nasional Pendidikan dapat dijadikan dasar penyelenggaran UKA tersebut. Seiring dengan berbagai penolakan tersebut, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Mohammad Nuh selalu berusaha meyakinkan bahwa UKA sangat perlu diadakan dengan alasan untuk meningkatkan kompetensi guru.

Sejatinya tujuan UKA dilaksanakan adalah untuk mempersiapkan guru dalam mengikuti PLPG (Pendidikan dan Latihan profesi Guru) 2012. Ujian tersebut dilaksanakan untuk menjaring guru-guru yang benar-benar memiliki kompetensi untuk mendapatkan sertifikat pendidik profesional dan akan mendapatkan tunjangan sertifikasi. Pemerintah tidak menginginkan guru yang sudah sertifikasi ternyata tidak mempunyai kompetensi seperti yang tertuang dalam Peraturan Mendiknas RI No. 16 tahun 2005 tentang Standar Kualifikasi dan Kompetensi Pendidik  (pedagogik, profesional, kepribadian dan sosial). Dengan demikian guru-guru yang mengikuti PLPG 2012 adalah guru-guru yang sudah teruji kompetensinya, sehingga palaksanaan PLPG yang bertujuan meningkatkan kompetensi guru akan berjalan dengan lancar. Berdasarkan pengalaman penulis sebagai asesor sergur (sertifikasi guru), masih banyak guru-guru yang tidak siap mengikuti PLPG sehingga dalam pelaksanaan PLPG banyak guru-guru yang stres dalam menyelesaikan tugas-tugas selama PLPG, bahkan ada yang sampai masuk rumah sakit. Masih banyak pula guru yang masih mengandalkan bantuan orang lain untuk menyelesaikan tugas-tugas dalam PLPG. Dengan adanya UKA ini diharapkan guru-guru yang mengikuti PLPG 2012 benar-benar guru yang sudah mempersiapkan diri dengan baik terutama mentalnya. Sehingga dapat memudahkan instruktur PLPG dalam menyampaikan materi-materi yang tertuang dalam PLPG. Hal ini juga berdampak pada pelaksanaan sertifikasi dapat menjadi indikator keprofesionalan seorang pendidik.

UKA memang membuat banyak guru merasa cemas dan gelisah terutama guru di daerah, mereka  khawatir tidak akan mampu menyelesaikan soal-soal UKA. Padahal kisi-kisi soal UKA dapat diunduh di internet.  Sebenarnya kecemasan mereka dapat dijadikan indikator bahwa para guru di daerah belum yakin dengan kemampuan dan kompetensi yang dimiliki selama ini. Seorang siswa saja dalam satu semester untuk naik kelas diwajibkan melewati beberapa kali ujian baik ulangan harian, ujian tengah semester dan ujian akhir semester. Namun pada gilirannya saat guru yang diwajibkan untuk mengikuti ujian, mereka merasa keberatan. Jadi sebenarnya sangat wajar UKA dilaksanakan, apalagi ujian tersebut sabagai syarat untuk mendapatkan tunjangan sertifikasi. Namun setelah UKA tersebut dilaksanakan banyak guru yang mengatakan bahwa soal UKA tidak sesulit yang dibayangkan dan akhirnya UKA dapat berjalan dengan lancar. Dari hasil pantauan tidak ditemukan kecurangan dalam pelaksanaannya, hal ini dimungkinkan pendidikan karakter sudah tertanam benar dalam diri guru.

Hasil UKA sekarang telah diumumkan  dan ada sekitar 28 ribu yang tidak lolos karena peserta UKA sebanyak 278 ribu sedangkan kuota sergur 2012 sebanyak 250 ribu guru. Dengan sistem pemeringkatan secara menyeluruh mengakibatkan prosentase jumlah guru yang lulus UKA antar daerah akan berbeda.  Untuk daerah yang memiliki kualitas guru yang baik, maka memungkinkan jumlah guru yang lolos UKA juga akan lebih banyak. Sehingga peluang setiap daerah untuk mengikutkan guru-gurunya dalam sergur 2012 akan berbeda pula. Dengan demikian hasil UKA ini akan mampu menjadi ukuran dan dapat memetakan kompetensi guru di Indonesia. Hasil UKA akan menggambarkan perbedaan kompetensi guru antar daerah, sehingga akan terlihat daerah mana yang kompetensi gurunya kurang dan sebaliknya. Dengan demikian hasil UKA akan memjadi pertimbangan diknas atau lembaga terkait untuk melakukan berbagai upaya peningkatan kompetensi guru, jika terbukti hasil UKA guru-guru di daerahnya masih tergolong rendah.

Bagaimana dengan guru-guru di daerah, terutama daerah terpencil? Salah satu contohnya daerah kepulauan, misalnya kepulauan Sumba, atau pulau Bawean yang ada di Kabupaten Gresik dan masih banyak lagi daerah-daerah terpencil lain di Indonesia. Daerah tersebut jarang tersentuh layanan pendidikan secara memadai. Kesempatan untuk mengikuti kegiatan-kegiatan yang dapat meningkatkan kompetensinya juga sangat kurang. Sedangkan Guru-guru di kota dapat dengan mudah mengakses berbagai hal yang terkait dengan peningkatan kompetensi yang dimiliki. Kegiatan seminar atau workshop yang diselenggarakan Perguruan Tinggi maupun lembaga pendidikan dapat mereka ikuti dengan mudah. Begitu pula layanan internet yang dapat dijadikan sumber referensi dalam pembelajaran dapat mereka akses dengan mudah. Dengan demikian perbedaan kompetensi atau kemampuan antara guru di daerah dengan guru di kota masih sangat mencolok. Hal ini masih menjadi permasalahan yang harus diperhatikan dengan serius oleh Pemerintah. Salah satu alternatif penyelesaiannya adalah Pemerintah dapat bekerjasama dengan Perguruan Tinggi di daerah untuk melaksanakan program peningkatan kompetensi guru di daerah-daerah tertinggal. Program tersebut daapat berbentuk pelatihan atau worshop untuk guru-guru yang ada di daerah. 

Sementara hasil UKA juga dapat menggambarkan kualitas lulusan Perguruan Tinggi pencetak guru. Tidak dapat dipungkiri bahwa salah satu faktor utama tinggi rendahnya kompetensi guru dipengaruhi oleh proses pembelajaran selama mereka menempuh pendidikan S1 (strata satu). Proses pembelajaran yang berkualitas di kelas akan mampu menghasilkan lulusan yang berkualitas pula. Dengan demikian Perguruan Tinggi pencetak guru baik negeri maupun swasta dengan berbagai upaya diharapkan dapat terus menerus meningkatkan kualitas lulusannya.  

 

Oleh : Nur Fauziyah, M.Pd (Dosen Pendidikan Matematika UMG & Asesor Sertifikasi Guru Rayon UNESA)

Email :nur_fauzia@yahoo.co.id