Selamat Datang di Website Universitas Muhammadiyah Gresik


Taksidermi Ikan Koi

2013-05-03 | By Administrator


Taksidermi merupakan salah satu upaya pengawetan kering hewan-hewan yang telah mati.  Banyak masyarakat Indonesia yang bertempat tinggal di pesisir memanfaatkan teknik ini sebagai salah satu upaya untuk mengawetkan binatang-binatang laut sebagai kerajinan ataupun hiasan yang biasanya mereka jual.  Namun cara-cara yang digunakan masih sederhana sehingga hasil yang didapatkan masih berbeda jauh dengan buatan Negara lain.  Taksidermi ikan yang diadakan di laboratorium Pendidikan Akuakultur dilakukan dengan menggunakan beberapa teknik, yaitu:  1) persiapan ikan, peralatan serta bahan-bahan yang diperlukan; 2) melakukan proses skinning, preserving, stuffing dan mounting.    

Persiapan  

Induk-induk ikan koi di Laboratorium Pendidikan Akuakultur UMG terserang parasit dan bakteri  yang tidak dapat diatasi, sehingga induk-induk tersebut mati.  Ikan koi mati harus segera ditaksidermi atau disimpan di freezer dan harus beku sempurna.  Penyimpanan ikan ini dilakukan dengan  dua metode, yaitu; 1) penyimpanan dengan menggunakan kantong kresek/ handuk basah ; 2) penyimpanan dengan tidak menggunakan kantong kresek/handuk basah. Penyimpanan dilakukan di dalam freezer untuk menjaga kualitas ikan agar tetap baik dan segar.  Sangatlah berbeda kualitas ikan yang disimpan menggunakan kantong kresek/handuk basah atau tidak. Penyimpanan ikan menggunakan kantong kresek/ handuk basah, warna ikan cenderung lebih terang daripada yang tidak menggunakan kantong kresek/handuk basah warna ikan cenderung kusam dan kaku.  Meskipun hal seperti ini sangat tidak diperhatikan tetapi sesungguhnya hal ini juga akan mempengaruhi kualitas taksidermi ikan tersebut. 

Tahap persiapan selanjutnya adalah penyediaan  bahan-bahan dan peralatan.  Bahan-bahan yang dibutuhkan yaitu ikan koi yang telah mati, manikin, boraks, larutan pembersih kamar mandi (lysol), air bersih, lem kayu, lem G, dry foam dan mata ikan palsu.  Peralatan-peralatan yang dipakai meliputi:  seperangkat alat bedah (sectio set), pisau tajam, nampan plastik, ember, timbangan digital, beaker glass, alat ukur (meteran) dan gunting.   Seluruh bahan dan peralatan di atas harus tersedia agar proses taksidermi berjalan lancar.

Skinning (penyiapan kulit ikan)

Skinning adalah tahap pemisahan kulit dari daging dan isi rongga tubuhnya.  Proses skinning diawali dengan pemotretan dan pengukuran morfometrik.  Gambar hasil pemotretan sebaiknya ditempel sebagai panduan ketika mencapai tahap mounting.  Pengukuran morfometrik meliputi:  1) pengukuran panjang standar  (PS) ikan; 2) pengukuran panjang kepala (PK); 3) dan pengukuran tinggi badan (TB) ikan.  PS diukur dari moncong ikan yang paling atas sampai pangkal ekor ikan.  Panjang kepala diukur dari moncong ikan yang paling atas sampai pangkal oper kulum ikan.  Pengukuran tinggi badan ikan diukur dari  badan ikan yang paling tinggi sampai pangkal sirip dubur.  Data hasil pengukuran morfometrik menjadi pedoman dalam membuat manikin atau badan tiruan ikan.  Manikin sendiri terbuat dari dry foam yang dibentuk menyerupai badan ikan koi.

Ikan dilumuri dengan borak untuk mencegah terlepasnya sisik dari kulit ketika proses skinning.  Tepat di bagian linea lateralis, kulit ikan disayat memanjang, mulai dari bagian akhir operculum hingga pangkal ekor.  Dari bagian yang disayat tersebut, daging dan isi rongga tubuh diambil sedikit demi sedikit, mulai dari daging dalam rongga kepala, dilanjutkan badan hingga pangkal ekor.  Pengambilan dilakukan hati-hati agar kulit tidak sampai terkoyak.  Sisa daging ikan yang tidak terambil harus dibersihkan sebersih-bersihnya. Daging ikan yang tidak terambil dalam jumlah banyak tentunya akan mempengaruhi hasil taksidermi, karena dapat menimbulkan bau tidak sedap dan menurunkan kualitas ikan taksiermi yang dihasilkan.  Bagian insang dan bola mata juga diambil menggunakan sectio set. Organ insang dapat diambil, dapat juga tidak, tergantung ekspresi yang akan diharapkan pada saat mounting.   Ada kalanya insang tidak peerlu diambil apabila akan ditampakkan ekspresinya seperti ikan hidup, yaitu pada saat ikan akan disetting membuka operkulumnya, seperti ikan yang akan bertarung atau akan menangkap mangsa.

Preserving (proses pengawetan kulit)

Kulit ikan yang telah bersih kemudian direndam menggunakan larutan pengawet.  Terdapat beberapa larutan yang dapat dipakai untuk mengawetkan kulit ikan, yaitu  1) perendaman dengan menggunakan cairan spiritus  2) perendaman dengan menggunakan boraks dan lysol.  Adapun prosedur perendaman menggunakan spiritus, yaitu, dengan mengisikan spiritus dalam baskom kemudian memasukkan kulit ikan ke dalam cairan spiritus tersebut.  Kulit diusahakan tidak terlipat dan harus terendam sempurna.  Jika ada sebagian kulit ikan yang tidak terendam, atau cairan spiritus terlalu sedikit, maka proses preserving akan gagal.  Perendaman kulit ikan dengan cairan spiritus membutuhkan waktu selama 8x24 jam. 

Prosedur menggunakan serbuk boraks yaitu, mengisi baskom dengan air bersih sebanyak  3,75 l air bersih sedangkan dengan menggunakan campuran boraks dan lysol hanya memerlukan waktu 1x24 jam. Penggunaan  campuran larutan boraks ini lebih murah dan cepat dalam waktu penyimpanannya, sedangkan kekurangannya hasil awetan masih berpotensi memunculkan serangan jamur atau cendawan.  Pengawetan dengan menggunakan spiritus hasil awetan tidak menimbulkan bau, namun harganya relatif lebih mahal. Kekurangan  pengawetan menggunakan cairan spirtus, dalam pemakaiannya membutuhkan jumlah yang banyak dimana jumlah ini akan mempengaruhi biaya pembelian spirtus yang cenderung mahal serta proses penyimpanan yang membutuhkan waktu lama daripada menggunakan boraks

Stuffing (penataan)

Kulit ikan kemudian di angin-anginkan setelah direndam menggunakan cairan pengawet. Pengeringan kulit ikan dilakukan dengan menggantung ikan dengan posisi kepala dibawah. Pengeringan ini dilakukan selama 15 menit atau lebih tergantung dari besarnya ikan. Pengeringan ini dilakukan hanya beberapa saat, Tidak sampai kulit ikan benar-benar kering tetapi hanya sekedar menghilangkan kandungan air. Selanjutnya kulit ikan diisi dengan menggunakan manikin yang sudah dibuat sebelumnya. Pembuatan manikin disesuaikan dengan ukuran morfometrik yang telah dilakukan. Apabila dalam pemasangan manikin, ukuran manikin cenderung lebih besar dari ukuran ikan sebenarnya, yang dimungkinkan mengalami penyusutan pada saat proses pengeringan kulit ikan berlangsung, manikin dapat diperkecil kembali sesuai dengan ukuran yang cocok.

Apabila dalam pemasangan manikin masih terdapat rongga-rongga yang belum terisi sepenuhnya dengan manikin, bagian-bagian ini dapat ditutup dengan menggunakan campuran lem kayu dengan semen putih. Pemasangan manikin dilakukan setelah sebelumnya bagian kulit ikan yang akan dipasangi manikin dan manikin itu sendiri dilumuri dengan lem perekat. Lem perekat ini dibuat dari campuran lem kayu dan lem sandal ( lem G). Penutupan kulit ikan dapat menggunakan lem perekat ini juga. Setelah ikan selesai dibentuk seperti bentuk semula maka selanjutnya dilakukan proses carding. Carding adalah proses penyusunan sirip dengan membubuhkan bahan yang dapat meregangkan sirip untuk selanjutnya dikeringkan sesuai posisi yang dipilih. Bahan yang digunakan kawat strimin dan penjepit. Untung mengcarding sirip ekor maka dapat menambahkan potongan kardus untuk memudahkannya.

Ikan yang akan di cat  harus menunggu sampai benar-benar lem perekat kering. Pengecatan warna ikan disesuaikan dengan warna ikan sebelumnya yaitu pada saat ikan masih hidup atau setelah beberapa saat ikan tersebut mati. Pengecatan dilakukan dengan beberapa tahapan, yaitu; 1) mengecat warna dasar ; 2) mengecat sesuai dengan warna kombinasi. Pengecatan warna dasar pada ikan disesuaikan dengan warna ikan yang asli, setelah melalui proses ini ikan dibiarkan kering terlebih dahulu. Tahapan pengecatan ikan selanjutnya disesuaikan dengan warna kombinasi yang dimiliki ikan. Alat yang digunakan untuk mengecat ikan dinamakan Air brush. Cat yang deigunakan dapat berupa cat khusus untuk taksidermi yang berbentuk cair dan bubuk.

Mounting (peletakan)

Pemajangan hasil taksidermi dapat dilakukan setelah melalui proses-proses pembuatan taksidermi selesai.  Ikan koi yang sudah ditaksidermi tidak akan mengalami banyak perubahan, hanya saja ikan ini tidak dapat bergerak bebas/ mati.  Taksidermi ini dapat dipajang di lemari kaca, ataupun melalui teknik bow front case .  Kelemahan pemajangan yang dilakukan didalam almari kaca, hasil taksidermi ikan masih terlihat sederhana, belum ada kreasi unik untuk menambah kesan hidup. Sedangakan untuk pemajangan menggunakan teknik bow front case, hasil taksidermi dapat dipajang didepan rumah atau digantung pada dinding dengan menggunakan hiasan-hiasan tertentu sehingga taksidermi ikan terlihat sangat menarik.

 

Oleh : Triana Retno (Mahasiswa Prodi Budidaya Perikanan Semester 6)