Selamat Datang di Website Universitas Muhammadiyah Gresik


Lebih Jauh tentang Etno Matematika : Konsep Matematika dalam Budaya Masyarakat

2017-05-22 | By Administrator


KULIAH AHLI SEMESTER GENAP TAHUN AKADEMIK 2016/2017

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN MATEMATIKA

FKIP – UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH GRESIK

 

kuliahahlimtketno1.jpg (81 KB)Program studi Pendidikan Matematika Universitas Muhammadiyah Gresik menyelenggarakan kuliah ahli genap tahun akademik 2016/2017, Rabu, 10 Mei 2017 bertempat di hall Sang Pencerah lt.8. Kegiatan ini dimulai pukul 15.30 sampai 17.00 WIB dengan dihadiri oleh Dekan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Dr.Irwani Zawawi, M.Kes, Ka. Prodi Pendidikan Matematika Fatimatul Khikmiyah, M.pd, dosen prodi Matematika dan seluruh mahasiswa prodi Matematika dilingkungan UMG. Kuliah Ahli ini menghadirkan Prof. Dr. Mega Teguh Budiarto, M.Pd dengan mengambil tema “Etno Matematika dan Pembelajaran Matematika”

Dalam pemaparannya Prof. Dr. Mega Teguh Budiarto, M.Pd menjabarkan bahwa Matematika sebagai mata pelajaran di sekolah sering kali diajarkan dengan dengan tujuan pembelajaran yang secara umum disertai fakta, konsep, dan materi. Padahal menurut pandangan etno-matematika, berpikir matematika dikembangkan pada budaya yang berbeda tergantung pada permasalahan yang ditentukan melalui konteks budaya.

Etno-matematika merupakan sebuah studi tentang perbedaan cara masyarakat memecahkan masalah matematika dan algoritma praktis berdasarkan perspektif matematika masyarakat sendiri. Etno-matematika mengacu pada bentuk-bentuk matematika yang bervariasi sebagai konsekuensi yang tertanam dalam kegiatan budaya. Etno-mathematika juga dapat di deskripsikan sebagai suatu cara di mana masyarakat dari budaya tertentu menggunakan ide dan konsep secara matematika melalui pertimbangan secara kuantitatif, relasional dan  aspek-aspek keruangan hidup masyarakat.

Dengan adanya kuliah ahli dengan tema “Etno-Matematika dan Pembelajaran Matematika” diharapakan mahasiswa Program studi Pendidikan Matematika FKIP Universitas Muhammadiyah Gresik mengenal lebih jauh tentang budaya masyarakat yang berkaitan dengan konsep matematika, misalnya Pengrajin anyaman bambu di daerah banyuwangi menggunakan pola anyaman 1-1, 1-2, 1-3, 2-2, 3-3.

Semua pola membentuk bangun yang simetri dan bangun-bangun geometri yang terdapat pada anyaman adalah bangun datar segitiga, persegi, persegi panjang, belah betupat dan bangun ruang seperti kerucut, kerucut terpancung, setengah ellips soida. Ini membuka peluang untuk mencari model-model matematika dari bangun-bangun tersebut.     

Lebih jauh Prof. Mega juga menjelaskan bahwa Etno-Matematika dapat dimasukkan dalam kurikulum dan mempunyai peranan relative sama terhadap matematika secara formal;

(1) pengganti matematika sekolah,;

(2) penyuplaian matematika sekolah;

(3) batu loncatan kematematika sekolah: atau

(4) motivasi untuk matematika sekolah.

Para pendukung Etno-Matematika mengusulkan agar Ethno-Matematika dapat dijadikan sebagai muatan local matematika sekolah. Tetapi sebelum memutuskan Ethno-Matematika masuk dalam kurikulum atau tidak, perlu penelitian yang mendalam terhadap kelayakan Ethno-Matematika masuk kurikulum minimal sebagai muatan local.

kuliahahlimtketno2.jpg (47 KB)              kuliahahlimtketno4.jpg (86 KB)

kuliahahlimtketno3.jpg (69 KB)

             kuliahahlimtketno5.jpg (56 KB)