Selamat Datang di Website Universitas Muhammadiyah Gresik


Kajian Ramadhan 1438 H : Jadikan Puasa Ramadhan Sebagai Madrasah Hayat

2017-06-08 | By Administrator


Wakil Rektor II Universitas Muhammadiyah Gresik, Moch. Nuruddin, ST.,MT memberikan tausihnya pada kajian ramadhan kultum ba’da dhuhur di Masjid Kampus KH. M. Faqih Oesman UMG. Kamis, 8 Juni 2017 pada kultum hari ke 4 ini beliau mengutip Qur’an Surat Al Baqarah ayat 183-187.  Ayat-ayat diatas berkaitan erat dengan satu ibadah yang menjadikan seorang hamba tumbuh ketakwaan dan keimanannya yaitu dengan menjalankan shaum selama beberapa waktu (yaitu hanya sebulan lamanya, pada bulan Ramadhan),

Al-Baqarah: 183

"Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertaqwa.

Allah memberi perintah berpuasa pada orang orang yang beriman, hal ini berarti Allah hanya menerima ibadah puasa dari orang orang yang memiliki iman di dalam jiwanya. Terdapat korelasi antara puasa dengan tanda keimanan seseorang dan dapat disimpulkan bahwa puasa merupakan tanda kesempurnaan keimanan seseorang.

Allah SWT menyebutkan hikmah disyariatkannya puasa adalah "Agar kamu bertaqwa," karena sesungguhnya puasa itu merupakan salah satu faktor penyebab ketaqwaan, karena berpuasa adalah merealisasikan perintah Allah dan menjauhi laranganNya

Al-Baqarah: 184

(Yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu dia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa) sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak berpuasa) membayar fidyah, (yaitu), memberi makan seorang miskin. Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itulah yang lebih baik baginya. Dan berpuasa lebih baik bagimu jika kamu mengetahui." (Al-Baqarah: 184).

Allah SWT menyebutkan kewajiban puasa bagi orang-orang beriman dan DIA juga mengabarkan bahwa puasa itu hanya pada hari-hari yang tertentu atau sedikit sekali dan sangat mudah, dan Allah juga memberikan kemudahan bagi mereka yang tidak dapat melaksanakan puasa karena hal-hal tertentu. Allah menjadikan puasa itu harus dilakukan oleh orang yang mampu sedangkan orang yang tidak mampu, boleh berbuka lalu menggantinya pada hari yang lain, itulah rahmad dari Allah SWT bagi hamba-hambaNYA.

Al Baqarah: 18

 “Bulan Ramadan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang hak dan yang batil). Karena itu, barang siapa di antara kamu hadir (di negeri tempat inggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa pada bulan itu, dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya berpuasa), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, supaya kamu bersyukur” (QS.  Al Baqarah: 185)

Al-Baqarah: 186 

“Dan apabila hamba-hambaKu bertanya kepadamu tentang Aku, maka (jawablah), bahwasanya Aku adalah dekat. Aku mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia memohon kepadaKu, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintahKu) dan hendaklah mereka beriman kepadaKu, agar mereka selalu berada dalam kebenaran.” (Al-Baqarah: 186). 

Bahwasannya Allah SWT itu dekat dan kita setiap saat dapat bermunajat kepadaNYA, doa tidak mengenal tempat dan waktu tertentu dan setiap saat manusia berkemauan dan dalam keadaan bagaimanapun juga, ia boleh bermunajat pada Allah. Berkaitan dengan Ramadhan dimana bulan ini adalah bulan ampunan dan dikabulkannya segala doa,  maka setiap insan yang beriman dan bertaqwa agar memanfaatkan momen ini untuk memohon kepada Allah SWT, agar Allah SWT mengabulkan doa-doa kita.

Al-Baqarah: 187

Dihalalkan bagi kalian pada malam hari bulan puasa bercampur dengan isteri-isteri kalian; mereka itu adalah pakaian bagi kalian, dan kalian pun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kalian tidak dapat menahan nafsu kalian, karena itu Allah mengampuni kalian dan memberi maaf kepada kalian. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan oleh Allah untuk kalian, dan makan minumlah hingga terang bagi kalian benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai datang malam, tetapi janganlah kalian campuri mereka itu sedang kalian beri’tikaf di masjid. Itulah larangan Allah, maka janganlah kalian mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa.” (Al-Baqarah: 187).

Dalam ayat diatas Allah SWT memberikan kemudahkan pada para  hamba-Nya untuk membolehkan mereka bersenang-senang (bersetubuh) dengan isterinya pada malam-malam bulan Ramadhan, sebagaimana mereka dibolehkan pula ketika malam hari makan dan minum hingga terbit fajar. Tetapi Allah SWT melarang menggauli isteri pada malam hari bulan puasa pada saat I’tikaf, karena itu adalah waktu meninggalkan segala urusan dunia untuk sepenuhnya konsentrasi beribadah. Allah menutup ayat-ayat yang mulia ini dengan memperingatkan agar manusia tidak melanggar perintah-perintah-Nya dan melakukan hal-hal yang diharamkan serta berbagai maksiat, yang semua itu merupakan batasan-batasan-Nya, sehingga mereka menjadi orang-orang yang bertakwa.

Selain rujukan Qur’an Surat Al Baqarah ayat 143-148 diatas Moch. Nuruddin, ST.,MT juga menyampaikan kisah Raja Iskandar Zulkarnain yang diambil dari buku tasawuf modern karya Buya Hamka. Dimana saat itu Raja yang ingin menaklukkan suatu daerah dan daerahnya harus melalui sebuah sungai terlebih dahulu, berpesan pada prajuritnya agar ketika malam nanti mereka menyebrangi sungai mereka harus mengambil apapun yang mereka pijak yang ada disungai tersebut.

Saat malam tiba para prajurit itu harus menyebrangi sungai, mereka terbagi dalam 3 golongan. Setelah sampai di sebrang sungai ketiga golongan itu melakukan hal-hal sebagai berikut :

Golongan 1 : mereka tidak mengambil apa pun yang terinjak di sungai

Golongan 2 : mereka mengambil ala kadarnya yang terinjak di sungai

Golongan 3 : mereka mengambil sebanyak-banyaknya yang mereka injak di sungai tersebut.

Konon ketika esok hari raja dan prajurit meneruskan perjalanan, sang raja bertanya pada pasukannya apa yang mereka dapat semalam, lalu prajuritnya memeriksa tas masing-masing. Ternyata yang mereka ambil semalam adalah berlian, Prajurit yang tidak mengambil apa-apa sangat menyesal, yang mengambil ala kadarnya mereka senang bercampur penyesalan dan yang mengambil semua mereka sangat bahagia.

Berkaca dari kisah diatas, kita memiliki 3 pilihan saat melewati ramadhan, yaitu :

Menjadi golongan 1 : yakni golongan yang melewati ramadhan tanpa mengambil keberkahan sedikitpun.

Menjadi golongan 2 : yakni golonganyang melewati ramadhan dengan mengambil keberkahan ala kadarnya, atau

Menjadi golongan 3 : yakni golongan yang bersungguh-sungguh mengambil keberkahan dengan cara memperbanyak ibadah dan amal kebajikan.

Mari kita jadikan ramadhan ini sebagai Madrasah Hayat/sekolah kehidupan, dimana hikmah yang bisa kita ambil dari madrasah hayat ini adalah sifat ikhlas, ulet dan tahan uji serta kita dapat istiqomah terhadap hal-hal yang positif.

Semoga kita termasuk golongan yang mendapat maghfirah, rahmad dan keberkahan Ramadhan 1438 H. Aamiin...