Aktualisasi Jati Diri Dalam Beribadah

2017-06-14 | By Administrator


Rabu, 14 Juni 2017 kultum ba’da dhuhur kali ini disampaikan oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik Prof. Dr.Ir. Setyo Budi, MS dengan mengambil tema “Aktualisasi Jati Diri Dalam Beribadah”. Dalam kultumnya beliau memulai dari pengertian aktualisasi diri yaitu ketepatan seseorang di dalam menempatkan diri sesuai dengan kemampuan yang ada di dalam dirinya. Sedangkan jati diri dapat diartikan sebagai suatu manifestasi ideologi hidup seseorang yaitu merupakan bagian dari sifat bawaan seseorang yang muncul dengan sendirinya. Sedangkan pengertian beribadah adalah menjalankan ibadah yaitu menunaikan kewajiban yang diperintahkan oleh Allah SWT dan meninggalkan semua yang dilarang Allah. Sehingga dapat ditarik kesimpulan bahwa pengertian Aktualisasi Jati Diri dalam Beribadah yaitu bagaimana seseorang dapat menempatkan dirinya sesuai kemampuan dan ideologi hidupnya dalam hal menunaikan kewajiban yang diperintahkan Allah SWT dan meninggalkan semua yang dilarang Allah.

Dalam kesempatan ini, beliau mencoba melakukan pendekatan untuk mencapai tujuan UMG ke depan dengan membuat 3 pertanyaan kita bekerja di UMG, yaitu siapa aku?, untuk apa aku?, aku mau ke mana?. Bolehlah kita sementara mengabaikan penemuan jati diri? Kita perlu memahami siapa diri kita, jika tidak untuk apa kita hidup, hidup kita tanpa arah, tanpa makna, dan tanpa arti. Kita mempunyai keunikan masing-masing, Mencari kelebihan dan potensi unik sangat penting dalam kehidupan. Jati diri kita sepatutnya mengabdi dan takut Allah , untuk itu kita harus meningkatkan usaha baik bakat maupun potensi yang unik. Biarkan Allah memberi atas usaha kita. Jadi kita harus dan terus menerus menggali bakat dan potensi unik dalam diri kita.

1.“Siapa Aku?”

Manusia adalah makhluk Allah yang terbuat dari tanah dan di berikan Roh oleh Allah, dilengkapi dengan potensi hati, akal dan jasad. Hati dan akal adalah potensi yang menyebabkan manusia memiliki kedudukan lebih tinggi dibandingkan mahkluk lainnya. Hal ini sesuai firman Allah dalam QS. As-Sajdah Ayat 7-9.

Artinya :

“Yang membuat segala sesuatu yang Dia ciptakan sebaik-baiknya dan Yang memulai penciptaan manusia dari tanah. Kemudian Dia menjadikan keturunannya dari saripati air yang hina (air mani). Kemudian Dia menyempurnakan dan meniupkan ke dalam (tubuh)nya roh (ciptaan)-Nya dan Dia menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan dan hati; (tetapi) kamu sedikit sekali bersyukur”. (QS. As-Sajdah: 7-9)

Berdasarkan penjelasan ayat tersebut dapat dijelaskan bahwa ibadah merupakan tujuan penciptaan manusia. Manusia diciptakan supaya beribadah kepada Allah SWT. Dan Allah Maha kaya, tidak membutuhkan ibadah mereka, akan tetapi merekalah yang membutuhkan Allah, karena ketergantungan manusia kepada Allah, maka barangsiapa yang menolak beribadah kepada Allah, ia adalah sombong, siapa yang beribadah kepada Allah, tetapi dengan selain apa yang di syariatkan Allah, maka ia adalah mubtadi’ (pelaku bid’ah). Dan barang siapa yang beribadah kepada Allah hanya dengan apa yang disyariatkan Allah, maka ia adalah Mukmin Muwahhid yaitu Yang meng-Esa-kan Allah.

2. “Untuk apa Aku ada?”

Tujuan diciptakan manusia adalah 1) dijadikan khalifah di muka bumi, 2) Beribadah kepada Allah. Jadi sudah sangat jelas peran kita sebagai dosen dan karyawan.

Sebenarnya untuk apa aku ada?. Allah sudah memberi manusia semua potensi hati, akal, dan jasad untuk melaksanakan tugas dengan baik dan benar. Lebih jelas ada pada QS. Adz-Dzariyat ayat 56

Artinya:

Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku”. (QS. Adz-Dzariyat:56)

3.”Akan kemana Aku?”

Sesungguhnya, tujuan pasti setiap manusia itu adalah kampung akhirat. Dan hanya ada dua pilihan kampung akhirat, yaitu syurga (Al Jannah) dan neraka (An Naar). Kita memilih yang mana? Tentu saja, bagi kita orang yang beriman, kita berharap mendapatkan balasan syurga dari Allah. Syaratnya adalah hidup kita sesuai dengan tujuan keberadaan kita, yaitu sebagai khalifah dan beribadah kepada Allah. Allah berfirman dalam  (QS As Sajdah:19-20) yang berbunyi:

Artinya:

“Adapun orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh, maka bagi mereka jannah tempat kediaman, sebagai pahala terhadap apa yang mereka kerjakan. Dan adapun orang-orang yang fasik (kafir) maka tempat mereka adalah jahannam. Setiap kali mereka hendak keluar daripadanya, mereka dikembalikan ke dalamnya dan dikatakan kepada mereka: “Rasakanlah siksa neraka yang dahulu kamu mendustakannya.” (QS As Sajdah:19-20)

Sesungguhnya bentuk beribadah itu dapat bermacam-macam, tidak hanya sholat, membaca Al-Quran, Puasa, tetapi juga dapat berbentuk ibadah lain seperti bekerja, belajar, serta perbuatan baik lainnya. Dalam kaitannya dengan aktualisasi jati diri kita, contoh yang paling sederhana kita sebagai dosen/karyawan, misalnya sebagai bentuk wujud aktualisasi jati diri kita sebagai dosen/karyawan, kita harus bekerja secara cerdas dan sungguh-sungguh melakukan apa yang sesuai dengan kewajiban pekerjaan masing-masing. Pekerjaan ini juga merupakan bagian dari ibadah. Jati diri kita sebagai bagian manajemen UMG dibentuk untuk selalu berkembang demi kemajuan UMG yang kita banggakan

Komponen ibadah lain yang perlu diperhatikan sebagai wujud dari aktualisasi jati diri dalam beribadah yaitu kita sebagai kader Muhammadiyah. Selama masih hidup, kita sebagai dosen/karyawan, maka dituntut untuk terus menimba ilmu dan mengembangkan pengetahuan, sebab bila tidak, maka akan tertinggal dan ditinggalkan. Dalam hal ini, menimba ilmu sepanjang hayat juga bagian dari ibadah.

Perlu diperhatikan juga bahwa kita sebagai dosen/karyawan dalam mengaktualisasikan jati diri kita dalam beribadah sebagai kader Muhammadiyah, kita juga harus memiliki salah satu kompetensi Kader Muhammadiyah yaitu Kompetensi Akademis dan Intelektual yang dicirikan dengan nilai-nilai, sebagai berikut:

1.Fathonah (Kecerdasan pikiran sebagai Ulul Albab) dalam berfikir, berwawasan, dan menghasilkan karya

2.Tajdid (pembaruan dan berpikiran maju) dalam mengembangkan kehidupan dan menggerakkan Persyarikatan sesuai jiwa ajaran Islam

3.Istiqamah (konsisten) dalam lisan, pikiran, dan tindakan.

4.Etos belajar (semangat dan kemauan keras) untuk selalu mengembangkan diri, mencari dan memperkaya ilmu, serta mengamalkan ilmu pengetahuan dalam kehidupan

5.Moderat (arif dan mengambil posisi di tengah) dalam bersikap, berpikiran dan bertindak.

Secara khusus dalam kesempatan ini Prof. Dr. Ir. Setyo Budi MS berharapkan para dosen muda menjadi panglima perjuangan perubahan untuk menuju UMG ke depan lebih baik. Penguatan daya juang dan kebersihan hati dosen muda harus dijaga dan ditumbuhkembangkan terus menerus. Suasana kebatinan di bulan Ramadhan sangat baik untuk menumbuhkan nilai-nilai ketulusan sekaligus  pribadi yang militansi. Tanpa bekal keimanan yang kokoh, maka kita akan mudah tergelincir dalam perbuatan terlarang.

“Bapak Ibu dosen dan karyawan UMG hendaknya memiliki kompetensi akademis dan nilai-nilai intelektual, agar bersama-sama dapat mengembangkan dan mewujudkan UMG yang lebih maju” tuturnya