Memutus Rantai Covid-19 dengan Isolasi Diri

Oleh : Ernawati, S.Kep.,Ns.M.Kes

Memutus Rantai Covid-19 dengan Isolasi Diri

Untuk mengurangi penyebaran penularan Covid 19  salah satu upaya yang dilakukan adalah melakukan isolasi diri dengan tujuan mencegah supaya yang sakit tidak bertemu dengan orang yang sehat sehingga tidak terjadi penularan.

Isolasi sifatnya bisa aktif dan juga bisa pasif, bagi orang yang sadar bahayanya Covid 19 maka dia akan mengisolasi dirinya tapi kalau orang tersebut tidak mengerti bahayanya Covid 19 maka perlu peraturan pemerintah yang tegas bagaimana cara agar orang seperti ini tidak keluar dari rumah atau di isolasi di rumah.

Isolasi bisa dirumah , rumah sakit atau isolasi wilayah                    

 jika orang dalam pemantauan (ODP) yang memiliki gejala seperti batuk, pilek demam dan sesak napas. Mereka dapat melakukan isolasi mandiri.

"Sekarang tak berarti bahwa kasus positif harus diisolasi di rumah sakit. Ada beberapa kasus positif tanpa gejala yang akan kita karantina, diisolasi di rumahnya secara mandiri,

Lalu apa bagaimana mereka yang PDP dan dinyatakan positif melakukan isolasi mandiri?

Beberapa langkah atau prosedur untuk melakukan Isolasi mandiri di rumah baik yang ODP, PDP, ataupun yang positif tapi memiliki penyakit penyerta, seperti sebagai berikut.

Isolasi diri sendiri ketika:

  1. Seseorang yang sakit (demam atau batuk pilek/nyeri tenggorokan/gejala penyakit pernafasan Iainnya). Namun tidak memiliki risiko penyakit penyerta lainnya (diabetes, penyakit jantung, kanker, penyakit paru kronik, AIDS, penyakit autoimun, dll).Maka secara sukarela atau berdasarkan rekomendasi petugas kesehatan tinggal di rumah dan tidak pergi bekerja, sekolah, atau ke tempat tempat umum.
  2. Orang Dalam Pemantauan (ODP) yang memiliki gejala demam gejala pernafasan dengan riwayat dari negara area transmisi lokal. dan/atau orang yang tidak menunjukkan gejala tetapi pemah memiliki kontak erat dengan pasien positif COVID 19.
  3. Lama waktu isolasi diri seiama 14 hari hingga dlketahuinya hasil pemeriksaan sampel di laboratorium.

Yang Dilakukan Saat Isolasi Diri :

  1. Tinggal di rumah. dan jangan pergi bekerja dan ke ruang publik.
  2. Gunakan kamar terpisah di rumah dari anggota keluarga lainnya. Jika memungkinkan, upayakan menjaga jarak setidaknya 1 meter dari anggota keluarga Iain.
  3. Gunakan selalu masker selama masa isolasi diri.
  1. Lakukan pengukuran suhu harian dan observasi gejala klinis seperti batuk atau kesulitan bernapas.
  2. Hindari pemakaian bersama peralatan makan (piring, sendok, garpu, gelas). dan perlengkapan mandi (handuk, sikat gigi. gayung) dan linen/seprai.
  3. Terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan mengonsumsi makanan bergizi. melakukan kebersihan tangan rutin. mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir serta keringkan, Iakukan etika batuk/bersin.
  4. Berada di ruang terbuka dan berjemur di bawah sinar matahari setiap pagi.
  5. Jaga kebersihan rumah dengan cairan desinfektan.
  6. Hubungi segera fasilitas pelayanan kesehatan jika sakit memburuk (seperti sesak nafas) untuk dirawat Iebih lanjut

Orang Dalam Pemantauan (ODP)

Ketika seseorang tidak menunjukkan gejala, tetapi pernah memiliki kontak erat dengan pasien positif COVID 19 dan atau orang dengan demam atau gejala pernafasan dengan riwayat dari negara atau area transmisi lokal.

Yang dilakukan saat pemantauan diri sendiri

  1. Lakukan observasi pemantauan diri sendiri di rumah.
  2. Lakukan pengukuran suhu harian dan observasi gejala klinis seperti batuk atau kesulitan bemapas.
  3. Jika ada muncul gejala. Iaporkan ke petugas di fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.
  4. Jika hasil pemeriksaan sampel dinyatakan positif. maka melakukan isolasi diri sendiri.
  5. Apabila memiliki penyakit bawaan berdasarkan rekomendasi petugas kesehatan, maka dilakukan perawatan di rumah sakit

Banyak masyarakat yang belum memahami konsep isolasi mandiri. Publik takut ketika mendengar bahwa penderita positif corona yang tidak mengeluarkan gejala bisa menyembuhkan dirinya tanpa harus dirawat, melainkan dengan melakukan isolasi mandiri

seseorang yang dinyatakan positif terinfeksi virus corona memang belum tentu perlu dirawat di rumah sakit. Terutama bila tidak ada gejala yang darurat.

"Kalau semua yang positif dirawat, rumah sakit akan penuh. Yang penting adalah melakukan isolasi mandiri dengan tetap dipantau oleh tenaga kesehatan,"

Yang perlu langsung dirawat saat diketahui positif terinfeksi virus corona adalah orang-orang yang memiliki penyakit bawaan. Seperti diabetes dan hipertensi.

Bila gejala yang muncul masih berupa demam, batuk, dan pilek saja, maka hanya perlu melakukan isolasi mandiri di rumah. Ia biasakan akan diresepkan obat-obatan yang bisa mengurangi gejalanya.

"Kalau misalnya demam, maka minum obat penurun panas. Begitu juga yang batuk cukup diberi obat batuk. Namun, bila sudah mengalami gangguan pernapasan atau sesak napas, maka harus langsung dirawat di rumah sakit,"

Seseorang yang positif terinfeksi virus corona bisa mengalami gangguan pernapasan. Alasannya dahak yang banyak di saluran pernapasan sudah mulai masuk ke paru-paru.

"Kalau sudah mengalami gangguan pernapasan, maka di rumah sakit perlu langsung di-rontgent untuk mengetahui penyebabnya

Virus corona bisa sembuh sendiri berbasis imunitas tubuh orang yang terinfeksi. "Makanya kita tidak harus menunggu obat atau vaksin. Secara global, lebih banyak yang sembuh daripada yang meninggal akibat penyakit ini,"

Pasien-pasien dari Indonesia yang sudah dinyatakan sembuh juga tidak menjalani pengobatan yang spesifik. Pengobatan Covid-19 hanya peningkatan imunitas tubuh.

Yang terpenting setelah seseorang mengikuti penapisan dan dinyatakan positif dan tidak ada gejala-gejala yang darurat. Maka cukup melakukan isolasi mandiri di rumah.

"Lakukan kegiatan yang baik di rumah, gunakan masker, dan pastikan asupan gizi cukup serta jaga jarak dengan keluarga. Isolasi mandiri terhadap seseorang yang positif corona akan tetap dipantau oleh tenaga kesehatan,"

Dengan peningkatan imunitas tubuh saat dinyatakan positif Covid-19 sehingga bisa sembuh sendiri,

 

Pemerintah telah melakukan perhitungan statistik terkait potensi penularan Covid-19. Hasilnya, ada sekitar 600 ribu hingga 700 ribu jiwa penduduk Indonesia yang termasuk dalam population at risk.

 

"Jumlah orang yang berisiko. Karena itu pemerintah akan menyiapkan sekitar 1 juta kit untuk pemeriksaan secara massal di dalam kaitan dengan mengidentifikasi kasus positif yang ada di masyarakat(20 Maret 2020 )

 

Penerapan rapid test dilakukan dengan menjejaki seluruh pihak yang pernah kontak dengan pasien positif Covid-19. Misalnya, ada seorang pasien terinfeksi virus corona yang ternyata selama 14 hari ke belakang lebih banyak menghabiskan waktunya di rumah. Maka, seluruh anggota keluarga yang tinggal bersamanya akan diperiksa melalui rapid test.

 

Begitu pula apabila ada pasien positif Covid-19 yang ternyata sepanjang 14 hari sebelum dinyatakan positif juga melakukan aktivitas di kantor. Maka seluruh orang yang berada dalam satu ruangan atau melakukan kontak di lingkungan kerja akan dilakukan pemeriksaan cepat (rapid test).

 

 

Kendati rapid test bisa menunjukkan potensi seseorang terinfeksi virus korona atau tidak, namun hasilnya tak 100 persen akurat. Rapid test nantinya menggunakan pemeriksaan darah dengan mengecek kadar immunoglobulin, yakni kadar antibodi dalam tubuh yang bisa memberi gambaran ada-tidaknya virus. Sementara penegakan diagnosis Covid-19 selama ini lebih banyak menggunakan tes usap atau usap dengan mengambi sampel cairan dinding hidung belakang atau dinding mulut belakang.

 

"Sensitivitas-nya beda tetapi ini adalah screening awal unuk menemukan kasus yang berpotensi menjadi positif. Saat screening positif, akan dilanjutkan dengan tes PCR untuk memastikan positif yang sesungguhnya,"

Jika harus melakukan isolasi mandiri, WHO membuat protokol isolasi mandiri yang harus dipraktikkan. Yaitu: 

1. Tetap di rumah

Batasi aktivitas di luar rumah, kecuali untuk mendapatkan perawatan medis. Jangan pergi bekerja, sekolah, atau ke tempat umum. Hindari menggunakan transportasi umum, transportasi daring, atau taksi.

 

2. Pisahkan diri

Sebisa mungkin, tinggal di kamar tertentu dan jauh dari orang lain di rumah. Gunakan kamar mandi terpisah, jika tersedia. Selain itu jangan memegang hewan peliharaan atau hewan lain saat sakit. 

 

3. Hubungi dulu sebelum mengunjungi dokter

Jika memiliki janji dengan dokter, hubungi penyedia layanan kesehatan dan beri tahu soal kemungkinan memiliki Covid-19. Ini akan membantu kantor penyedia layanan kesehatan mengambil langkah-langkah untuk menjaga yang lain agar tidak terinfeksi atau terpapar.

 

4. Kenakan masker

Kenakan masker ketika berada di sekitar orang lain, misalnya berbagi kamar atau kendaraan, atau hewan peliharaan dan sebelum masuk kantor penyedia layanan kesehatan. Jika tidak dapat memakai masker misalnya karena menyebabkan kesulitan bernapas, maka orang yang tinggal bersama tidak boleh ada di kamar yang sama. Atau mereka harus mengenakan masker jika mereka masuk kamar pelaku isolasi mandiri.

 

5. Tutupi batuk dan bersin

Tutup mulut dan hidung dengan tisu ketika batuk atau bersin. Buang tisu bekas di tempat sampah, segera cuci tangan dengan sabun dan air setidaknya selama 20 detik.

Atau bersihkan tangan dengan pembersih tangan berbahan dasar alkohol yang mengandung setidaknya 60-95 persen alkohol. Bersihkan semua permukaan tangan dan gosok sampai terasa kering. 

Sabun dan air harus digunakan secara khusus jika tangan tampak kotor. Hindari menyentuh mata, hidung, dan mulut dengan tangan yang tidak dicuci.

 

6. Barang rumah tangga yang sama

Jangan gunakan piring, gelas, peralatan makan, handuk, atau tempat tidur yang sama dengan orang lain atau hewan peliharaan di dalam rumah. Setelah menggunakannya, barang-barang ini harus dicuci menyeluruh dengan sabun dan air.

Bersihkan semua permukaan yang sering disentuh. Termasuk meja, gagang pintu, perlengkapan kamar mandi, toilet, ponsel, laptop, tablet, dan meja samping tempat tidur. Juga, bersihkan semua permukaan yang mungkin memiliki darah, tinja, atau cairan tubuh. Gunakan semprotan pembersih rumah tangga dan lakukan sesuai dengan instruksi label. 

Gunakan pembersih sesuai petunjuk. Juga pakai sarung tangan dan pastikan ada ventilasi yang baik selama penggunaan produk.

 

7. Pantau gejalanya

Segera hubungi tim medis jika penyakit memburuk, misalnya sulit bernapas. Sebelum mencari perawatan, hubungi layanan kesehatan beri tahu mereka bahwa Anda memiliki, atau sedang dievaluasi untuk Covid-19.

 

Kenakan masker sebelum memasuki rumah sakit. Langkah-langkah ini akan membantu menjaga kantor penyedia layanan kesehatan agar orang lain di kantor atau ruang tunggu agar tidak terinfeksi.

 

8. Dinas kesehatan

Minta penyedia layanan kesehatan untuk menghubungi dinas kesehatan setempat atau pemerintah daerah. Orang yang ditempatkan di bawah pengawasan aktif atau pemantauan mandiri yang difasilitasi harus mengikuti instruksi yang diberikan oleh dinas kesehatan setempat.

 

Jika memiliki darurat medis dan perlu menelepon unit gawat darurat (UGD), beri tahu mereka bahwa Anda memiliki atau sedang dievaluasi untuk Covid-19. Jika memungkinkan, kenakan masker sebelum staf medis tiba.

 

9. Isolasi rumah

Pasien dengan Covid-19 yang dikonfirmasi harus tetap isolasi di rumah dan melakukan tindakan pencegahan sampai risiko penularan sekunder bagi orang lain dianggap rendah. Keputusan untuk tidak melanjutkan isolasi mandiri harus dilakukan berdasarkan kasus per kasus, dalam konsultasi dengan penyedia layanan kesehatan dan pemerintah daerah.

 

Mari manfaatkan kondisi lockdown sebagai kesempatan untuk mengevaluasi diri, memperkaya bacaan untuk memperluas ilmu, dan mendekatkan diri kepada Allah. Ini adalah kesempatan untuk berkhalwat. Banyak hikmah dan maslahat di baliknya.


01 September 2020
Tantangan Pendidikan Anak di Masa Pandemi
14 August 2020
Opini hukum terhadap dana bantuan sosial pemerintah bagi karyawan swasta bergaji rendah
26 June 2020
Menjawab Keraguan Guru di Masa Pendemi Covid-19