Selamat Datang di Website Universitas Muhammadiyah Gresik


Belajar dan Pembelajaran

2015-11-30 | By Administrator


“….…Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat” (Q.S. al-Mujadalah : 11)

Belajar merupakan hal penting dalam kehidupan, dengan belajar orang mampu untuk mengerti dan memahami, dengan belajar pula orang dapat mengenal dan menikmati karunia Tuhan yang telah diberikan. Menuntut ilmu itu wajib dan mengamalkan ilmu akan menjadi kesempurnaan yang ternilai maknanya ketika ilmu dapat terimplementasikan.

Dalam belajar mengajar hal yang terpenting adalah proses, karena proses inilah yang menentukan tujuan belajar akan tercapai atau tidak tercapai. Ketercapaian dalam proses belajar mengajar ditandai dengan adanya perubahan tingkah laku. Perubahan tingkah laku tersebut baik yang menyangkut perubahan bersifat pengetahuan (kognitif), keterampilan (psikomotor) maupun yang menyangkut nilai dan sikap (afektif).

Dalam proses belajar mengajar ada banyak faktor yang mempengaruhi tercapainya tujuan pembelajaran diantaranya pendidik, peserta didik, lingkungan, metode/teknik serta media pembelajaran. Pada kenyataannya, apa yang terjadi dalam pembelajaran seringkali terjadi proses pengajaran berjalan dan berlangsung tidak efektif. Banyak waktu, tenaga dan biaya yang terbuang sia-sia sedangkan tujuan belajar tidak dapat tercapai bahkan terjadi noises dalam komunikasi antara pengajar dan pelajar. Hal tersebut diatas masih sering dijumpai pada proses pembelajaran selama ini.

Pembelajaran adalah proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar. Pembelajaran merupakan bantuan yang diberikan pendidik agar dapat terjadi proses perolehan ilmu dan pengetahuan, penguasaan kemahiran dan tabiat, serta pembentukan sikap dan kepercayaan pada peserta didik. Dengan kata lain, pembelajaran adalah proses untuk membantu peserta didik agar dapat belajar dengan baik. Di sisi lain pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, tetapi sebenarnya mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, Tenaga Pendidik mengajar agar peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan, juga dapat memengaruhi perubahan sikap, serta keterampilan seorang peserta didik, namun proses pengajaran ini memberi kesan hanya sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan pengajar saja. Sedangkan pembelajaran menyiratkan adanya interaksi antara pengajar dengan peserta didik. Pembelajaran yang berkualitas sangat tergantung dari motivasi pelajar dan kreatifitas pengajar. Pembelajar yang memiliki motivasi tinggi ditunjang dengan pengajar yang mampu memfasilitasi motivasi tersebut akan membawa pada keberhasilan pencapaian target belajar. Target belajar dapat diukur melalui perubahan sikap dan kemampuan siswa melalui proses belajar. Desain pembelajaran yang baik, ditunjang fasilitas yang memandai, ditambah dengan kreatifitas Tenaga Pendidik akan membuat peserta didik lebih mudah mencapai target belajar.

Proses pendidikan merupakan hal yang sangat kompleks, yang didalamnya terlibat banyak unsur yang saling terkait, mulai dari Tenaga Pendidik, siswa, sarana, metode, strategi, media dan lain-lain. Pendidikan bukan saja bicara tentang hasil, tapi lebih kompleks lagi, sebenarnya pendidikan berkaitan dengan bagaimana proses untuk mencapai hasil. Sebagaimana yang tercantum dalam Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang sistem pendidikan nasional, bahwa pendidikan nasional bertujuan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman, bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, mandiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dari sini terlihat bahwa ada banyak tujuan yang ingin dicapai dengan berlangsungnya proses pendidikan yang diwujudkan dari pembelajaran.

Proses pembelajaran di kelas melibatkan Tenaga Pendidik sebagai pengajar dan siswa sebagai pelajar. Seiring dengan pesatnya perkembangan pendidikan, pendidikan Indonesia saat ini menginginkan pembelajaran yang menempatkan Tenaga Pendidik tidak lagi sepenuhnya sebagai sumber dari segala sumber belajar, namun Tenaga Pendidik diharapkan menjadi fasilitator bagi proses belajar siswa. Siswa tidak lagi mengawang akan apa yang disampaikan Tenaga Pendidik, tapi sebaliknya siswa sebagai individu aktif.

Siswa berasal dari latar belakang yang berbeda-beda, baik dari segi kemampuan /intelegensi, suku/ras, agama, kehidupan ekonomi dan sosial, latar belakang keluarga, dan lain-lain. Perbedaan ini tidak seharusnya menjadi jurang perkembangan siswa di sekolah, namun sebaliknya perbedaan ini membutuhkan penanganan khusus dari tenaga pendidik baik secara klasikal, maupun individual. Proses pembelajaran diharapkan mampu menciptakan kondisi lingkungan belajar yang kondusif, yang memungkinkan siswa untuk bisa mengembangkan seluruh kemampuan/potensi yang ada dalam dirinya, baik dari segi kemampuan intelegensi(IQ), emosional (EQ)siswa, dan spriritual (SQ) .

Mengingat begitu banyaknya keanekaragaman pada siswa, baik dari latar belakang keluarga, sosial, ekonomi, motivasi, kemampuan/intelegensi dan lain-lain, maka proses pembelajaran memerlukan trik dan cara khusus untuk menghadapi dan membantu siswa belajar. Salah satunya adalah dengan mengetahui berbagai model, pendekatan dan teori-teori belajar. Masalah lain yang dihadapi saat ini adalah rendahnya minat belajar siswa, dan cara belajar siswa yang tidak serius, sehingga berdampak pada rendahnya hasil belajar siswa yang terlihat dari hasil ulangan harian dan ulangan semester siswa. Dalam kelas yang terdiri atas siswa yang heterogen, ada siswa yang berkemampuan tinggi namun hasil belajarnya rendah. Hal ini salah satunya disebabkan oleh lingkungan disekitar yang tidak mendukung potensi siswa tersebut. Dan sebaliknya ada siswa dengan kemampuan sedang, namun mendapatkan nilai hasil belajar yang baik, karena motivasi belajar yang tinggi misalnya dengan kerajinan dalam belajar. Dan anak yang berkemampuan rendah, memiliki nilai hasil belajar yang kurang baik. Berbagai perbedaan ini harus bisa disikapi dengan baik, sehingga perbedaan kemampuan ini tidak menjadi jurang kegagalan pendidikan di sekolah.

Tenaga Pendidik sebagai pendidik professional perlu memikirkan bagaimana menghadapi siswa dengan pendekatan-pendekatan tertentu, sehingga dengan kemampuan yang dimilikinya, siswa dapat berkembang dengan baik dan optimal. Siswa yang berkemampuan rendah perlu perhatian lebih dari Tenaga Pendidik, agar tidak merasa rendah diri, dan terus memacu semangat belajar siswa. Namun jelas untuk mewujudkan semua ini tidaklah semudah membalikan telapak tangan. Tenaga Pendidik perlu usaha keras, memikirkan dan mencari solusi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan belajar siswanya. Seyogyanya pendidik professional dengan segala hak dan kewajibannya sebenarnya harus dibarengi dengan kualitas dan mutu output pendidikan.

Dalam menerapkan teori belajar, terkadang Tenaga Pendidik menggunakan lebih dari satu teori belajar dalam proses pembelajaran. Walaupun memang pada dasarnya tidak ada teori belajar yang terbaik. Tinggal bagaimana kita bisa menentukan teori mana yang cocok dan bisa melaksanakan pembelajaran dengan baik sesuai dengan keadaan peserta didik. Pendidikan, bukanlah selalu penerapan teori-teori belajar. Namun, ketepatan memilih metode dan pendekatan sangat penting dalam pendidikan. Oleh karena itu, Tenaga Pendidik harus menggunakan metode dan pendekatan pembelajaran yang tidak hanya menarik, tetapi juga memberikan ruang bagi peserta didik untuk berkreatifitas dan terlibat secara aktif sepanjang proses pembelajaran. Sehingga aspek-aspek yang ada dalam diri peserta didik dapat dikembangkan secara optimal.