UMGNews, MOJOKERTO – “Cuma bercanda” sering kali menjadi alasan ketika seorang anak mengejek, memanggil temannya dengan nama yang tidak disukai, atau mengucilkan teman dari kelompok bermain. Padahal, bagi anak yang menjadi sasaran, tindakan tersebut bisa meninggalkan rasa tidak nyaman bahkan luka emosional. Persoalan inilah yang menjadi perhatian mahasiswa Program Studi Psikologi Universitas Muhammadiyah Gresik (UM Gresik) dalam kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) di SDN 1 Bangeran, Kecamatan Dawarblandong, Kabupaten Mojokerto.
Melalui program “Psikoedukasi Anti-Bullying: Aku Berani, Aku Baik!”, mahasiswa Psikologi UM Gresik mengajak siswa untuk mengenali bentuk-bentuk perundungan sekaligus membangun keberanian untuk bersikap ketika menghadapi atau menyaksikan bullying. Kegiatan yang dilaksanakan pada Kamis (20/08/2026) tersebut diikuti oleh 24 siswa dengan melibatkan dua mahasiswa sebagai fasilitator utama serta didampingi 12 mahasiswa lainnya.
Program psikoedukasi ini berangkat dari pengamatan mahasiswa terhadap pola interaksi siswa dalam keseharian. Ejekan, panggilan yang tidak disukai, hingga perilaku mengucilkan teman terkadang masih dianggap sebagai bagian dari candaan. Padahal, ketika sebuah tindakan membuat orang lain merasa tersakiti, takut, atau tertekan, hal tersebut perlu mendapatkan perhatian.
Karena itu, mahasiswa Psikologi UM Gresik menghadirkan materi dengan pendekatan yang sederhana, interaktif, dan dekat dengan kehidupan siswa. Sesi pertama diawali dengan pengenalan mengenai pengertian bullying serta contoh-contoh yang mudah ditemui anak dalam kehidupan sehari-hari.
“Bercanda atau Bullying?” Jadi Ujian Kepekaan Siswa
Salah satu sesi yang paling menarik perhatian siswa adalah permainan diskusi “Bercanda atau Bullying?”. Dalam sesi ini, mahasiswa memberikan sejumlah contoh situasi yang kemudian diminta untuk dinilai oleh siswa. Mereka diajak menentukan apakah suatu tindakan masih tergolong candaan atau justru sudah termasuk bullying.
Dari aktivitas tersebut, siswa diperkenalkan pada berbagai bentuk bullying, mulai dari bullying verbal, fisik, hingga sosial. Mahasiswa juga menjelaskan bahwa setiap bentuk perundungan dapat memberikan dampak bagi orang yang mengalaminya.
Tak berhenti pada pengenalan, siswa kemudian diajak memahami apa yang dapat dilakukan ketika bullying terjadi. Mahasiswa menekankan pentingnya tidak ikut melakukan perundungan, tidak membiarkan tindakan tersebut, serta berani mencari bantuan dengan melaporkannya kepada guru atau orang dewasa yang dipercaya.
Dari Cerita Kupu-Kupu hingga “Bebanmu, Lepaskan”
Pembelajaran kemudian berlanjut melalui sesi olah rasa bertajuk “Kupu-Kupu Kecil yang Berani”. Mahasiswa membacakan cerita tentang seekor kupu-kupu kecil yang menghadapi ejekan dari teman-temannya, tetapi akhirnya menemukan keberanian untuk tetap percaya diri dan menjadi dirinya sendiri.
Setelah cerita selesai, siswa diajak melakukan refleksi melalui sejumlah pertanyaan sederhana. Mereka didorong untuk mengenali perasaan tokoh dalam cerita sekaligus menghubungkannya dengan pengalaman dan perasaan yang mungkin pernah mereka rasakan.
Suasana kemudian semakin reflektif melalui kegiatan menulis ekspresif “Bebanmu, Lepaskan”. Siswa diberikan secarik kertas untuk menuliskan perasaan sulit yang pernah dialami. Setelah itu, kertas diremas dan dibuang sebagai simbol melepaskan beban yang dirasakan.
Mahasiswa memastikan aktivitas tersebut dilakukan secara sukarela dan menjaga kerahasiaan isi tulisan. Siswa tidak diwajibkan membacakan atau menceritakan apa yang telah mereka tuliskan kepada orang lain.
Antusiasme siswa terlihat sepanjang kegiatan. Sesi “Bercanda atau Bullying?” menjadi salah satu bagian yang banyak memunculkan respons dan pendapat beragam dari siswa. Sementara itu, pada sesi cerita dan menulis ekspresif, siswa tampak lebih tenang dan mengikuti kegiatan dengan penuh perhatian.
Bagi mahasiswa Psikologi UM Gresik, kegiatan tersebut menjadi kesempatan untuk mengimplementasikan pengetahuan mengenai psikologi perkembangan dan psikoedukasi yang diperoleh selama perkuliahan ke dalam lingkungan masyarakat. Melalui KKN, ilmu tersebut dikemas menjadi kegiatan edukatif yang sesuai dengan karakteristik anak usia sekolah dasar.
Lebih dari sekadar memberikan pemahaman mengenai bullying, program “Aku Berani, Aku Baik!” menjadi upaya menanamkan keberanian, empati, dan sikap saling menghargai sejak dini. Mahasiswa berharap siswa SDN 1 Bangeran mampu mengenali perbedaan antara candaan dan tindakan yang menyakiti, berani mencari bantuan ketika menghadapi perundungan, serta semakin terbiasa mengelola perasaan dengan cara yang positif.
Pada akhirnya, keberanian melawan bullying tidak selalu harus dimulai dengan tindakan besar. Berani berkata “tidak”, berani membela teman, dan berani melapor kepada orang yang dipercaya dapat menjadi langkah sederhana untuk menciptakan lingkungan sekolah yang lebih aman, nyaman, dan penuh rasa saling menghargai.
📌 Informasi lebih lanjut:
🌐 Website: www.umg.ac.id
📱 Instagram: @um_gresik
📺 YouTube: UM_GRESIK
Credit by Kelompok 20 KKN UM Gresik