UMGNews, SHAHRISABZ — Universitas Muhammadiyah Gresik, Indonesia, dan Shahrisabz State Pedagogical Institute, Uzbekistan, memperkuat kerja sama akademik melalui seminar dan sharing session di Departemen Pedagogy, Shahrisabz State Pedagogical Institute, pada Kamis, 30 April 2026.

Kegiatan tersebut mengangkat tema membedah nilai-nilai pendidikan dan kebudayaan antara Gresik dan Shahrisabz. Forum ini menghadirkan Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik, Prof. Dr. Khoirul Anwar, M.Pd., serta akademisi UM Gresik, Paulina, M.Pd., sebagai pembicara.
Seminar ini menjadi bagian dari implementasi kerja sama antara UM Gresik dan Shahrisabz State Pedagogical Institute. Setelah kerja sama kelembagaan dibangun, kedua perguruan tinggi mulai mendorong kegiatan akademik yang lebih konkret. Salah satunya melalui pertukaran gagasan tentang pendidikan, kebudayaan, pembentukan karakter, dan pemahaman lintas negara.
Dalam pemaparannya, Prof. Dr. Khoirul Anwar menekankan bahwa pendidikan tidak dapat dilepaskan dari akar budaya masyarakat. Menurutnya, Gresik dan Shahrisabz memiliki kekayaan sejarah, nilai sosial, dan tradisi keilmuan yang dapat menjadi bahan pembelajaran bersama. Pendidikan yang baik tidak hanya membentuk kecakapan akademik, tetapi juga membangun sikap saling menghargai, tanggung jawab, dan keterbukaan terhadap perbedaan.
Ia menjelaskan bahwa kerja sama pendidikan antara Indonesia dan Uzbekistan penting karena mahasiswa hidup dalam dunia yang semakin terhubung. Mereka tidak cukup hanya memahami ilmu dari ruang kelas. Mahasiswa juga perlu mengenal cara masyarakat lain berpikir, berinteraksi, menjaga tradisi, dan membangun nilai dalam kehidupan sehari-hari.
Sementara itu, Paulina, M.Pd., menyoroti pentingnya menanamkan nilai budaya melalui proses pembelajaran yang dekat dengan pengalaman mahasiswa. Menurutnya, nilai seperti disiplin, sopan santun, gotong royong, penghormatan kepada guru, kepedulian sosial, dan kecintaan terhadap ilmu dapat diperkuat melalui dialog kelas, kegiatan kolaboratif, proyek budaya, serta pertukaran cerita antarmahasiswa.
Ia juga menekankan bahwa pendidikan lintas budaya tidak boleh berhenti pada pengenalan simbol budaya. Mahasiswa perlu diajak memahami makna di balik tradisi, bahasa, kebiasaan sosial, dan praktik pendidikan di masing-masing negara. Dengan cara itu, pembelajaran budaya dapat melahirkan sikap empati dan kemampuan berkomunikasi lintas bangsa.

Dalam sesi diskusi, mahasiswa Shahrisabz State Pedagogical Institute aktif menyampaikan pandangan mengenai hubungan antara pendidikan dan kebudayaan. Mereka membahas persamaan nilai antara masyarakat Gresik dan Shahrisabz, terutama dalam penghormatan terhadap ilmu, keluarga, guru, komunitas, dan kehidupan religius.
Salah satu peserta, Yusupxonova Munisa Zaxriddin, menilai kegiatan ini membuka pemahaman baru bahwa pendidikan tidak hanya berkaitan dengan kurikulum. Menurutnya, nilai budaya juga membentuk cara mahasiswa belajar, menghormati dosen, dan berinteraksi dengan masyarakat.
Yuldasheva Dilrabo San’at menyampaikan bahwa seminar tersebut membantu mahasiswa memahami Indonesia lebih dekat, khususnya Gresik sebagai daerah yang memiliki sejarah pendidikan, keagamaan, dan kebudayaan yang kuat. Ia menilai pertukaran gagasan seperti ini dapat memperluas wawasan mahasiswa tentang keberagaman masyarakat Muslim di dunia.
Sementara itu, Tog‘aynazarova Farangiz O‘tkir melihat kegiatan ini sebagai kesempatan untuk membangun hubungan akademik yang lebih hidup antara mahasiswa Uzbekistan dan Indonesia. Menurutnya, diskusi tentang nilai pendidikan dan budaya dapat menjadi bekal penting bagi mahasiswa calon pendidik agar lebih terbuka dalam menghadapi perbedaan.
Kegiatan ini menghasilkan beberapa manfaat utama. Pertama, mahasiswa memperoleh pemahaman lebih luas tentang hubungan antara pendidikan, budaya, dan pembentukan karakter. Kedua, dosen dari kedua institusi memiliki ruang untuk mengembangkan agenda akademik bersama, termasuk kuliah tamu, pertukaran mahasiswa, riset pendidikan, dan publikasi ilmiah. Ketiga, kerja sama antara Indonesia dan Uzbekistan mulai bergerak dari dokumen formal menuju aktivitas akademik yang langsung menyentuh mahasiswa.
Bagi UM Gresik, kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan internasionalisasi kampus. UM Gresik tidak hanya memperluas jejaring luar negeri, tetapi juga membawa nilai pendidikan Indonesia ke forum akademik internasional. Bagi Shahrisabz State Pedagogical Institute, kegiatan ini memperkaya perspektif mahasiswa dan dosen tentang praktik pendidikan di Asia Tenggara.
Melalui seminar dan sharing session tersebut, kedua perguruan tinggi menempatkan pendidikan sebagai jembatan kebudayaan. Kerja sama ini diharapkan tidak hanya meningkatkan hubungan akademik antara dua kampus, tetapi juga mempererat pemahaman antara masyarakat Indonesia dan Uzbekistan melalui mahasiswa, dosen, riset, dan pertukaran nilai pendidikan.
📌 Informasi lebih lanjut:
🌐 Website: www.umg.ac.id
📱 Instagram: @um_gresik
📺 YouTube: UM_GRESIK
Credit by Rektor UM Gresik