UMGNews, KATTAKURGAN, 28 April 2026 — Departemen Ekonomi Kattakurgan State Pedagogical Institute, Uzbekistan, menjadi ruang perjumpaan dua gagasan penting dalam penguatan ekonomi modern: wakaf sebagai instrumen sosial-keagamaan yang produktif, dan Enterprise Resource Planning (ERP) sebagai sistem digital untuk memperkuat tata kelola organisasi dan bisnis. Keduanya dibahas dalam workshop bersama yang melibatkan Universitas Muhammadiyah Gresik pada Selasa, 28 April 2026.
Kegiatan ini menghadirkan Dr. Azizah dari Departemen Ekonomi Kattakurgan State Pedagogical Institute, Dr. Tumirin dari Universitas Muhammadiyah Gresik dengan materi tentang wakaf, serta Muhammad Zainuddin Fathoni, M.MT. dari UM Gresik yang membawakan materi tentang ERP. Workshop tersebut menjadi bagian dari implementasi kerja sama akademik yang tidak hanya berorientasi pada pertukaran kelembagaan, tetapi juga pada penguatan kapasitas mahasiswa dalam memahami ekonomi dari dua sisi: nilai sosial dan efisiensi manajerial.
Dalam pembukaan kegiatan, Dr. Azizah menegaskan bahwa Departemen Ekonomi Kattakurgan State Pedagogical Institute memandang workshop ini sebagai forum penting untuk memperluas perspektif mahasiswa. Menurutnya, pembelajaran ekonomi tidak boleh berhenti pada teori pasar, produksi, dan konsumsi, tetapi juga perlu menyentuh tata kelola, keadilan sosial, serta transformasi digital.
“Mahasiswa ekonomi perlu memahami bahwa ekonomi hari ini bergerak dalam dua arah sekaligus: bagaimana menciptakan nilai sosial dan bagaimana mengelola organisasi secara efisien. Karena itu, pembahasan tentang wakaf dan ERP dalam satu forum menjadi sangat relevan,” ujar Dr. Azizah.
Sesi tentang wakaf disampaikan oleh Dr. Tumirin. Ia menjelaskan bahwa wakaf tidak hanya dapat dipahami sebagai praktik filantropi tradisional, tetapi juga sebagai instrumen ekonomi yang memiliki potensi besar apabila dikelola secara produktif, transparan, dan profesional. Dalam konteks ekonomi modern, wakaf dapat menjadi sumber pembiayaan sosial untuk pendidikan, kesehatan, pemberdayaan masyarakat, serta penguatan sektor ekonomi umat.
Menurut Dr. Tumirin, tantangan utama wakaf bukan hanya pada penghimpunan aset, melainkan pada tata kelola. Wakaf yang dikelola secara baik dapat menghasilkan manfaat berkelanjutan, sementara wakaf yang tidak dikelola dengan sistem yang kuat berisiko berhenti sebagai aset pasif.
“Wakaf memiliki dimensi spiritual dan sosial, tetapi dalam konteks ekonomi ia juga membutuhkan manajemen. Transparansi, akuntabilitas, dan kemampuan mengelola aset menjadi kunci agar wakaf benar-benar memberi manfaat jangka panjang bagi masyarakat,” kata Dr. Tumirin.
Ia menambahkan, mahasiswa ekonomi perlu melihat wakaf sebagai bagian dari ekosistem ekonomi sosial. Dengan begitu, mereka tidak hanya memahami ekonomi dari sisi profit, tetapi juga dari sisi kebermanfaatan, pemerataan, dan pembangunan masyarakat.
Sementara itu, Muhammad Zainuddin Fathoni, M.MT. membawa pembahasan workshop ke ranah transformasi digital melalui ERP. Ia menjelaskan bahwa ERP merupakan sistem perangkat lunak yang digunakan organisasi untuk mengintegrasikan bagian-bagian penting dalam bisnis, seperti keuangan, sumber daya manusia, manufaktur, rantai pasok, dan pergudangan secara terpadu dan umumnya berbasis data waktu nyata.
Dalam paparannya, M. Zainuddin Fathoni menekankan bahwa ERP bukan sekadar alat teknologi, melainkan instrumen tata kelola. Melalui ERP, organisasi dapat mengurangi fragmentasi data, mempercepat proses kerja, meningkatkan akurasi pencatatan, serta membantu manajemen mengambil keputusan berbasis informasi yang lebih kuat.

“ERP membantu organisasi melihat proses bisnis secara menyeluruh. Data tidak lagi terpisah di tiap bagian, tetapi terhubung dalam satu sistem. Inilah yang membuat pengambilan keputusan menjadi lebih cepat, lebih akurat, dan lebih dapat dipertanggungjawabkan,” ujar M. Zainuddin Fathoni.
Materi yang dibawakan juga menyinggung perkembangan ERP dalam konteks usaha kecil dan menengah. Dalam bahan pembelajaran yang digunakan, open-source ERP seperti Odoo dipaparkan sebagai alternatif yang lebih fleksibel dan terjangkau bagi pelaku usaha dengan keterbatasan modal dan infrastruktur digital. Studi kasus implementasi Odoo pada industri kecil manufaktur menunjukkan bahwa ERP dapat meningkatkan efisiensi proses bisnis secara signifikan, termasuk dalam penjualan, inventori, manufaktur, pembelian, akuntansi, dan pelaporan.
Pembahasan ERP tersebut menjadi relevan bagi mahasiswa ekonomi karena transformasi digital kini tidak hanya terjadi pada perusahaan besar. UMKM, lembaga sosial, institusi pendidikan, bahkan organisasi pengelola dana sosial juga membutuhkan sistem informasi yang rapi agar dapat bekerja secara efisien dan akuntabel.
Di titik inilah workshop menemukan simpul pentingnya. Wakaf membutuhkan tata kelola agar manfaat sosialnya berkelanjutan, sementara ERP menawarkan pendekatan digital untuk memperkuat transparansi dan efisiensi pengelolaan. Keduanya, meski berasal dari ranah berbeda, bertemu pada satu kebutuhan yang sama: manajemen ekonomi yang bertanggung jawab.
Bagi mahasiswa, kegiatan ini tidak hanya memperkenalkan konsep, tetapi juga membuka cara pandang baru tentang masa depan ekonomi. Salah satu peserta, Quvonchbek, menyampaikan bahwa ia memperoleh banyak pemahaman baru dari workshop tersebut, terutama tentang bagaimana nilai sosial dan teknologi manajemen dapat saling melengkapi.
“Saya mendapatkan banyak hal dari kegiatan ini. Wakaf memberi pemahaman tentang bagaimana ekonomi dapat membantu masyarakat, sedangkan ERP menunjukkan bagaimana organisasi dapat dikelola secara lebih modern dan efisien. Keduanya penting untuk dipelajari oleh mahasiswa ekonomi,” ujar Quvonchbek.
Workshop di Departemen Ekonomi Kattakurgan State Pedagogical Institute ini berlangsung dengan baik dan memperlihatkan arah kerja sama akademik yang semakin konkret antara UM Gresik dan mitra internasionalnya. Forum ini tidak hanya menjadi ruang berbagi pengetahuan, tetapi juga ruang untuk mempertemukan pengalaman Indonesia dalam pengelolaan ekonomi sosial dan transformasi digital dengan kebutuhan pembelajaran mahasiswa di Uzbekistan.
Dari Kattakurgan, pesan kegiatan ini terasa jelas: ekonomi masa depan tidak cukup hanya bicara tentang pertumbuhan, tetapi juga tentang tata kelola, keberlanjutan, efisiensi, dan kebermanfaatan. Melalui pembahasan wakaf dan ERP, mahasiswa diajak melihat bahwa kekuatan ekonomi tidak hanya lahir dari modal dan teknologi, tetapi juga dari nilai, integritas, dan kemampuan mengelola sumber daya secara bertanggung jawab.
📌 Informasi lebih lanjut:
🌐 Website: www.umg.ac.id
📱 Instagram: @um_gresik
📺 YouTube: UM_GRESIK
Credit by Humas UM Gresik