UMGNews, GRESIK – Tingginya keterlibatan pelajar dalam kecelakaan lalu lintas menjadi perhatian serius. Berdasarkan data IRSMS Korlantas Polri tahun 2023, pelajar SMA menjadi kelompok dengan persentase keterlibatan kecelakaan tertinggi berdasarkan tingkat pendidikan, yaitu mencapai 66,7 persen. Sementara itu, sepeda motor menjadi kendaraan yang paling banyak terlibat dalam kecelakaan lalu lintas dengan persentase 77,3 persen. Kondisi tersebut menunjukkan pentingnya edukasi keselamatan berkendara (safety riding) bagi generasi muda sejak usia sekolah.
Sebagai bentuk kepedulian terhadap permasalahan tersebut, Program Studi Teknik Sipil Universitas Muhammadiyah Gresik (UM Gresik) melalui kegiatan Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) menyelenggarakan kegiatan “Pelatihan Keselamatan Berkendara pada Siswa/i SMA/SMK di Kabupaten Gresik”. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan perilaku siswa dalam menerapkan prinsip berkendara yang aman serta bertanggung jawab.
Kegiatan tersebut menghadirkan Kholidia Ayunaning, S.T., M.T. sebagai pemateri yang memberikan edukasi mengenai pentingnya keselamatan berkendara, faktor risiko kecelakaan, kepatuhan terhadap aturan lalu lintas, serta penerapan perilaku safety riding dalam kehidupan sehari-hari. Melalui penyampaian materi yang interaktif, siswa diajak memahami bahwa keselamatan berkendara bukan hanya tentang kemampuan mengoperasikan kendaraan, tetapi juga berkaitan dengan kesadaran, kedisiplinan, dan tanggung jawab sebagai pengguna jalan.
Kegiatan pelatihan dilaksanakan pada tiga sekolah mitra, yaitu SMK NU Gresik, SMK Manbaul Ulum Kebomas, dan SMK YASMU Gresik. Pelaksanaan kegiatan menggunakan pendekatan edukatif dan partisipatif melalui beberapa tahapan, mulai dari identifikasi kebutuhan peserta, penyampaian materi, diskusi interaktif, simulasi keselamatan berkendara, hingga evaluasi menggunakan metode pre-test dan post-test.
Dalam kegiatan tersebut, para siswa mendapatkan materi mengenai konsep dasar safety riding, faktor penyebab kecelakaan lalu lintas, pemahaman aturan dan rambu jalan, pentingnya penggunaan perlengkapan keselamatan, teknik berkendara aman, serta etika sebagai pengguna jalan. Materi diberikan dengan menghubungkan teori keselamatan berkendara dengan kondisi nyata yang sering dihadapi siswa saat berkendara menuju sekolah maupun aktivitas lainnya.
Kholidia Ayunaning, S.T., M.T. menyampaikan bahwa peningkatan kesadaran keselamatan berkendara perlu dilakukan sejak dini karena pelajar merupakan kelompok yang mulai aktif menggunakan kendaraan bermotor. Menurutnya, pemahaman mengenai safety riding menjadi bekal penting agar siswa mampu mengambil keputusan yang tepat ketika berada di jalan raya serta mengurangi perilaku berkendara yang berisiko.
Berdasarkan hasil evaluasi kegiatan, pelatihan ini memberikan dampak positif terhadap peningkatan pemahaman peserta. Hasil pre-test menunjukkan nilai rata-rata peserta sebesar 2,5, kemudian meningkat menjadi 8,0 pada post-test. Hal tersebut menunjukkan adanya peningkatan pemahaman sebesar 55 persen setelah siswa mengikuti pelatihan.
Peningkatan pemahaman peserta terlihat terutama pada aspek penyebab kecelakaan lalu lintas, aturan berkendara, fungsi rambu jalan, serta pentingnya penggunaan helm berstandar SNI. Hasil ini menunjukkan bahwa edukasi keselamatan berkendara berbasis sekolah dapat menjadi strategi preventif dalam membangun budaya tertib berlalu lintas di kalangan generasi muda.
Melalui kegiatan ini, Teknik Sipil UM Gresik berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam memberikan edukasi yang berdampak bagi masyarakat, khususnya dalam bidang keselamatan transportasi. Program edukasi safety riding diharapkan tidak hanya meningkatkan pengetahuan siswa, tetapi juga membentuk karakter generasi muda yang disiplin, peduli, dan bertanggung jawab dalam menggunakan fasilitas jalan raya.
Ke depan, kegiatan serupa diharapkan dapat dikembangkan secara berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak sekolah serta memperluas metode pembelajaran melalui praktik langsung, simulasi kondisi lalu lintas, dan kerja sama antara perguruan tinggi, sekolah, kepolisian, maupun instansi terkait untuk memperkuat budaya keselamatan berlalu lintas.