Gresik – Universitas Muhammadiyah Gresik mengadakan acara Silaturahim dan Pengajian virtual yang dilaksanakan dalam rangka Milad Muhammadiyah ke 112, Jum’at (30/07). Mengusung tema “Refleksi Peran Kemanusiaan Muhammadiyah untuk Bangsa yang Berdaulat”, acara yang diselenggarakan menggunakan aplikasi Zoom Meeting ini mengundang Sekretaris PP Muhammadiyah, Prof. Dr. H. Abdul Mu’ti, M. Ed., sebagai narasumber. Acara ini diikuti oleh seluruh civitas akademik Universitas Muhammadiyah Gresik. Selain itu, pada acara ini juga hadir Bupati Gresik, H. Fandi Akhmad Yani, S.E., perwakilan dari PWM, PCNU, PDM Gresik, PDPM Gresik, Kapolres Gresik, Dandim 0817 Gresik, perwakilan PDA Gresik, Kepala Sekolah Muhammadiyah di Gresik, serta berbagai unsur masyarakat lain.
Dalam sambutannya, Bupati Gresik yang akrab disapa Gus Yani menyampaikan ucapan selamat atas Milad Muhammadiyah yang ke-112. Di sela kegiatannya yang padat, Gus Yani menyempatkan diri mengikuti acara ini dengan harapan bahwa Muhammadiyah akan bisa menjadi pelopor yang baik, utamanya dalam menghadapi kasus pandemi Covid-19 yang menyita perhatian besar dari pemerintah. Gus Yani menyampaikan rasa terima kasihnya pada Muhammadiyah yang telah membantu menjadi pelopor baik itu dalam menggerakkan
masyarakat untuk patuh pada protokol kesehatan maupun dalam memberikan perhatian terhadap masyarakat dalam penanganan pandemi.
“Banyak yang sudah terbantu melalui Lazismu dan Amal Usaha Muhammadiyah yang lain dalam penanganan pandemi ini, kami mewakili pemerintah Indonesia utamanya Gresik mengucapkan banyak terimakasih, dan saya harap Muhammadiyah dapat terus berkolaborasi dan bersinergi dengan baik kedepannya,” ucapnya.
Prof. Mu’ti, Sekretaris PP Muhammadiyah dan narasumber pada acara pengajian ini juga menyampaikan hal serupa. Menurutnya pandemi covid-19 ini merupakan masalah kemanusiaan yang mendesak untuk segera diselesaikan, tidak hanya di Indonesia namun juga diseluruh dunia. Prof. Mu’ti mengatakan bahwa dengan Milad ini seharusnya dapat memberi makna.
“Dengan semangat Milad, kita harus bisa kembali pada nilai-nilai dasar dan tujuan yang ingin dicapai oleh organisasi dakwah Islam ini yakni amar ma’ruf nahi munkar, maka kita juga harus selalu responsif terhadap isu-isu yang berkembang di sekitar kita, seperti misalnya pandemi covid-19 saat ini,” paparnya.
Prof. Mu’ti mengatakan bahwa akhir-akhir ini isu kemanusiaan menjadi semakin penting bagi keluarga besar Muhammadiyah. Untuk itu, Muhammadiyah sejak awal sudah mendirikan PKU yakni Penolong Kesengsaraan Umum, dan pada zaman sekarang, isu kemanusiaan semakin direspon oleh organisasi dengan cara menggalang berbagai macam gerakan yang sifatnya adalah untuk bersinergi baik dengan pemerintah maupun dengan ormas lain pada
skala nasional maupun internasional. Prof. Mu’ti mengingatkan bahwa sejak awal berdirinya Muhammadiyah, organisasi ini lebih dominan untuk tampil sebagai lembaga kemanusiaan. Islam adalah agama yang menekankan arti pentingnya kita berhubungan baik dengan sesama manusia. Maka ini menjadi dasar dari gerakan kemanusiaan Muhammadiyah dan pada akhirnya menjadi lini terdepan gerakan dakwah Muhammadiyah.
Prof. Mu’ti menggarisbawahi beberapa hal penting terkait dengan pandemi covid-19 ini sebagai isu kemanusiaan. Pertama adalah bagaimana pandemi ini dilihat, apakah dilihat sebagai musibah, sebagai hukuman Allah ataukah sebagai peristiwa atau fenomena alam biasa. Cara memandang kita akan berhubungan dengan bagaimana cara kita menyikapi pandemi ini. Prof. Mu’ti menjelaskan bahwa agama dan ilmu pengetahuan adalah merupakan panduan untuk hal ini. Tidak bisa hanya dari sisi teologis, ataupun dari sisi keilmuan saja. Keduanya harus dipadukan untuk dapat menjadi panduan dalam mengatasi berbagai persoalan. Agama memberi pengetahuan berupa wahyu ataupun ilham, sedangkan ilmu pengetahuan berbasis penelitian. Dengan menggabungkan dua hal ini maka akan menjadikan kita mampu untuk memahami fenomena-fenomena yang terjadi.
Dampak dari pandemi ini sangat dirasakan di seluruh dunia dan mempengaruhi hampir seluruh aspek kehidupan bermasyarakat, baik itu ketahanan keluarga, ekonomi, pendidikan, politik dan lainnya. Muhammadiyah tidak ingin negara semakin terpuruk dan menjadi bangsa yang sakit baik secara jasmani maupun sosial dengan pandemi yang belum pasti kapan berakhir. Prof. Mu’ti mengingatkan bahwa bangsa yang sakit secara sosial adalah masyarakat yang tidak percaya dan curiga kepada pemerintah dan kepada satu sama lain. Hal ini, imbuhnya, sudah terlihat di masyarakat sekarang ini. Misalnya saja terkait dengan program vaksinasi, sudah banyak kelompok yang menolak dengan dalih vaksin merupakan konspirasi ataupun vaksin tidak akan mampu menghentikan pandemi. Maka dalam konteks untuk membangun masyarakat yang rasional, seharusnya dilihat dan ditimbang dari segi agama dan ilmu pengetahuan. Dalam ilmu pengetahuan, tidak ada 100% kebenaran hanya ada 99% saja. Hal ini berarti bahwa ada kemungkinan 1% hasil tidak akan sesuai dengan proyeksi ataupun prediksi. Maka ini bukan berarti bahwa 99% itu kemudian ditiadakan dan tidak penting.
“Sebagai umat beragama, kita diberi kesempatan untuk memahami bahwa inilah yang dikatakan sebagai manusia berusaha Tuhan yang menentukan, maka ada waktunya kita tawakal ada waktunya kita berikhtiar, kita tidak boleh hanya pasrah tanpa ikhtiar begitu pula sebaliknya,” jelasnya.
Yang lebih penting, lanjut Prof. Mu’ti adalah selain bagaimana menghadapi covid, namun juga bagaimana menghadapi post-covid. Ini akan menjadi tantangan dan tugas yang berat yang harus dipersiapkan dengan baik. Jika dikaitkan dengan gerakan kemanusiaan, Muhammadiyah dengan segala keterbatasan telah berusaha memberikan usaha yang terbaik dalam menyelesaikan isu-isu terkait covid-19 ini.
“Maka dalam menghadapi ini, kita harus tetap optimis, tetap semangat, musibah ini tidak akan selama-lamanya, tapi kita tidak tahu kapan akan terjadinya, bangsa kita tidak boleh sedih berkepanjangan dan berputus asa, Allah tidak akan menguji hambanya lebih dari apa yg dimampui hamba tersebut,” tutupnya. (Humas UMG)


