International Webinar kerjasama UMG, UIN Sunan Kalijaga dan UniSZA Malaysia

Gresik, IRO dan DPPM Universitas Muhammadiyah Gresik mengadakan kegiatan International Webinar bekerjasama dengan Universiti Sultan Zainal Abidin (UniSZA) dan AlJamiah Journal UIN Sunan Kalijaga (24/09). Kegiatan tersebut dilaksanakan secara online (daring) via Zoom Meeting dan dihadiri oleh Rektor Universitas Muhammadiyah Gresik, Kepala Biro Dakwah dan Pengembangan AIK UMG, serta Ka. Biro Kerjasama (IRO) serta Direktur Penelitian dan Pengabdian Masyarakat UMG. Selain Dr. Abdul Kholid M.Pd, pemateri pada International Webinar hari ini adalah Reza Maulana dari UIN Sunan Kalijaga dan Wan Mohd Yusof Wan Chik, Fakulti Pengajian Kontemporari Islam & Institut Penyelidikan Produk dan Ketamadunan Melayu Islam Universiti Sultan Zainal Abidin, Terengganu.

Screenshot_20210925-201622_Drive.jpg (109 KB)

Pada sambutan sekaligus pembukaan kegiatan Webinar Internasional ini, Dr. Eko Budi Leksono, ST, M.T menyampaikan bahwa peradapan Agama Islam yang ada di Indonesia, tidak lepas dari sentuhan sentuhan kebudayaan china, diantaranya beberapa wali songo masih ada keturunan dari tiongkok, masjid-masjid di Indonesia terutama Jawa Timur juga banyak yang menggunakan arsitektur Tiongkok. Sehingga Dr. Eko berharap diskusi Webinar Internasional ini akan banyak manfaat dan menambah pengetahuan kita terkait dengan sejarah kebudayaan Islam di Indonesia, terutama di Jawa Timur dan Gresik pada khususnya.

Screenshot_20210925-201654_Drive.jpg (111 KB)

Dr. Abdul kholid mengawali kegiatan Webinar Internasional dengan menyajikan tema “Tionghoa dan Kebudayaan Islam di Gresik”. Pada kesempatan tersebut beliau menjelaskan tentang asal mula nama kota Gresik yang berasal dari berbagai bahasa.

“Gresik pada abad ke 14 dikenal sebagai kota dagang. Dukungan Geografis yang menjadikan Gresik sebagai Kawasan Dagang karena terletak di pesisir utara, dan merupakan alur palayaran utama Nusantara dan Internasional. Banyak sekali pedagang Ghujarat, Kalikut, Benggala, Siam, dan Cina yang melakukan perjalanan pelayaran di Gresik. Sehingga di kota Gresik banyak sekali terjadi akulturasi budaya, terutama budaya-budaya islam ” jelas alumni S3 Manajemen Pendidikan Islam UIN Malang tersebut.

Beliau juga menyampaikan bahwa Kebudayaan Islam di Gresik justru masih banyak terlihat dipengaruhi oleh budaya hindu dan budha sebagai agama sebelum kedatangan Islam di Gresik dan Nusantara secara umum yang dapat dilihat dari pelaksanaan tradisi-tradisi di masyarakat.

Screenshot_20210925-201603_Drive.jpg (132 KB)

Pemateri kedua Rezza Maulana MA, dari Al Jamiah Jurnal UIN Sunan Kalijaga Cermin menyampaikan materi tentang budaya tionghoa dalam masyakarat muslim di Indonesia. Potret akulturasi budaya Tionghoa dalam masyarakat muslim indonesia, diantaranya adalah arsitektur masjid-masjid yang ada di Indonesia, salah satunya adalah Masjid Kasunyatan Banten, Masjid Krukut, Masjid Cheng Ho serta Masjid Kebun Jeruk Lama dan Masjid Angke atau Masjid Al Anwar di buat oleh orang Bali, tetapi ada yang menganggap bahwa arsiteknya orang Tionghoa muslim bernama Gouw Tjay.

“Tidak hanya masjid, banyak juga Mubaligh yang berasal dari keturunan Tionghoa, selain itu makanan khas yang berasal dari Tiongkok dan bisa kita nikmati hingga sekarang” tuturnya.

Pada akhir sesi Webinar Internasional,  Wan Mohd Yusof Wan Chik dari Universiti Sultan Zainal Abidin, Terengganu. Beliau menuturkan tentang Peranan Masyarakat Cina Peranakan Dalam Peradaban Islam Di Nusantara.

“Peradaban yang saling berinteraksi secara langsung dari Arab ataupun melalui cina karena sifat peradaban islam itu universal. Namun generasi peranakan semakin berkurang selepas kemerdekaan akibat pendidikan, sektor pekerjaan dan migrasi” pungkasnya.

Wan Mohd Yusof pada presentasinya mencoba untuk menyimpulkan bahwa : Islam membawa dampak secara universal. Islam Berinteraksi dengan peradaban lain, tanpa meliberalisasi peradaban apapun, bahkan berasimilasi dengannya, termasuk Cina. Peradaban Tiongkok telah berdampak pada Peradaban Islam termasuk di Nusantara, antara lain adalah adanya generasi peranakan Tionghoa di seluruh Nusantara (HUMAS UMG).

Scroll to Top