Gresik, Program Studi Budidaya Perikanan Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Gresik kembali gelar wawancara massal pada petambak udang tradisional (13/07). Bertempat di Desa Tambak Beras Kecamatan Cerme, dengan responden sebanyak 62 orang. Setelah Tambakberas, sasaran berikutnya adalah Desa Mojoasem, Pangkahwetan, dan Pangkahkulon.
Per hari ini Prodi telah berhasil mengumpulkan data sebanyak 1100 petambak tradisional, tersebar di 19 desa dari 7 kecamatan di Kabupaten Gresik dan 89 desa dari 8 kecamatan di Kabupaten Lamongan. Diharapkan, pada akhir bulan Juli dapat terkumpul seluruh data yaitu 1400-an responden Survey Udang 2021, dimana pendanaan berasal dari University of Turku (UTU) Finlandia, Japan International Research center for Agricultural Science (JIRCAS), dan Hitotsubashi University (Hit-U).

Dalam survey ini digali informasi tentang aspek petambak, keluarga petambak, sejarah bertambak, cara bertambak, hasil panen, dan pemasaran hasil panenan dari petambak utama secara langsung. Untuk selanjutnya data-data tersebut akan dianalisis untuk mendapatkan informasi yang berguna bagi pengembangan petambak tradisional.

Informasi tersebut akan disusun menjadi karya ilmiah dan bahan kajian penting untuk perayaan International Year of Artisanal Fisheries and aquaculture (IYAFA) 2022. Prodi menganggap penting untuk menggaungkan IYAFA sesuai seruan FAO, dimana IYAFA 2022 adalah kesempatan untuk menyoroti pentingnya perikanan skala kecil dan akuakultur untuk sebuah sistem pangan, mata pencaharian, budaya, dan lingkungan global. Nelayan skala kecil, pembudidaya ikan, dan pekerja perikanan memiliki potensi besar untuk mendorong perubahan transformatif dalam cara, oleh siapa dan untuk siapa ikan dan produk perikanan diproduksi, diproses, dan didistribusikan–dengan efek riak positif yang dapat dirasakan di seluruh sistem pangan global (HUMAS UMG)