UMGNews, KATAKURGAN — Departemen Ekonomi Katakurgan State Pedagogical Institute, Uzbekistan, menyelenggarakan workshop dan focus group discussion atau FGD bertema “Metodologi Riset Kualitatif Berbasis Syariah dengan Pendekatan Hiperfenomenologi Tauhid dan Pasca fenomenologi Tauhid di Bidang Ekonomi” pada 28 April 2026. Kegiatan ini menghadirkan dosen Universitas Muhammadiyah Gresik, Dr. Tumirin, sebagai narasumber utama.
Kegiatan tersebut menjadi bagian dari implementasi kerja sama akademik antara UM Gresik dan Katakurgan State Pedagogical Institute. Kerja sama ini tidak hanya diarahkan pada pertukaran institusional, tetapi juga pada penguatan kapasitas akademik, riset kolaboratif, dan publikasi ilmiah di bidang ekonomi, terutama ekonomi syariah.
Dalam pemaparannya, Dr. Tumirin menekankan pentingnya metodologi riset kualitatif berbasis syariah untuk membaca fenomena ekonomi secara lebih utuh. Menurutnya, persoalan ekonomi tidak cukup dipahami hanya melalui angka, indikator pasar, atau perilaku rasional manusia. Dalam perspektif syariah, aktivitas ekonomi juga terkait dengan nilai, kesadaran spiritual, tanggung jawab sosial, dan relasi manusia dengan Tuhan.
Pendekatan hiperfenomenologi tauhid diperkenalkan sebagai cara untuk memahami pengalaman ekonomi manusia secara lebih dalam. Pendekatan ini tidak hanya melihat apa yang tampak dalam perilaku ekonomi, tetapi juga menggali makna, niat, nilai, dan kesadaran tauhid yang melatarbelakanginya. Dengan pendekatan tersebut, peneliti dapat menelaah bagaimana pelaku ekonomi memahami kejujuran, keadilan, amanah, keberkahan, dan tanggung jawab dalam praktik ekonomi sehari-hari.
Sementara itu, pasca fenomenologi tauhid dipaparkan sebagai pendekatan yang membantu peneliti melihat hubungan antara manusia, teknologi, sistem ekonomi, dan nilai ketuhanan. Dalam konteks ekonomi modern, teknologi keuangan, digitalisasi bisnis, dan platform ekonomi tidak berdiri netral. Semua itu membentuk cara manusia mengambil keputusan, menjalankan usaha, dan memahami nilai ekonomi. Karena itu, riset ekonomi syariah perlu mampu membaca perubahan tersebut tanpa kehilangan dasar etik dan spiritualnya.
Dr. Tumirin menjelaskan bahwa metodologi ini dapat dilakukan melalui beberapa tahap. Pertama, peneliti perlu menentukan fenomena ekonomi yang memiliki dimensi syariah, seperti perilaku pedagang, praktik keuangan mikro, zakat, wakaf, konsumsi halal, bisnis digital, atau etika transaksi. Kedua, peneliti menggali pengalaman subjek melalui wawancara mendalam, observasi, dan FGD. Ketiga, data dianalisis dengan menelusuri makna pengalaman, nilai tauhid, relasi sosial, serta dampak teknologi atau sistem ekonomi terhadap perilaku manusia.

Melalui sesi FGD, peserta diajak mendiskusikan contoh penerapan metodologi tersebut dalam riset mahasiswa. Diskusi berlangsung interaktif. Mahasiswa menyampaikan pertanyaan mengenai cara membedakan riset kualitatif biasa dengan riset kualitatif berbasis syariah, cara menjaga objektivitas peneliti, serta strategi menghubungkan temuan lapangan dengan teori ekonomi Islam.
Salah satu peserta, Yusupova Gulnoza Ma’rufjon qizi, menilai kegiatan ini membuka pemahaman baru tentang riset ekonomi syariah. Ia menyebut bahwa riset ekonomi tidak hanya membahas transaksi dan keuntungan, tetapi juga nilai yang memengaruhi perilaku manusia.
“Workshop ini membantu saya memahami bahwa ekonomi syariah dapat diteliti melalui pengalaman manusia. Nilai seperti kejujuran, amanah, dan tanggung jawab sosial dapat menjadi bagian penting dalam analisis,” ujarnya.
Mahasiswa lain, Ziyodullayeva Jasmina Ziyodulla qizi, menyampaikan bahwa pendekatan yang dijelaskan Dr. Tumirin memberi sudut pandang baru dalam menyusun topik penelitian. Menurutnya, mahasiswa dapat mengembangkan kajian ekonomi yang lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
“Saya melihat metode ini bermanfaat untuk meneliti praktik ekonomi di lingkungan sekitar. Penelitian tidak hanya menjelaskan data, tetapi juga memahami alasan, keyakinan, dan nilai yang hidup dalam masyarakat,” katanya.
Sementara itu, To‘rayeva Sevinch Umidjon qizi menilai FGD tersebut memberi manfaat praktis bagi mahasiswa yang akan menulis karya ilmiah. Ia mengatakan bahwa pemaparan tentang langkah penelitian, teknik wawancara, dan analisis makna membuat metodologi kualitatif lebih mudah dipahami.
“Kegiatan ini memberi gambaran yang jelas tentang cara memulai riset. Kami belajar bagaimana memilih fenomena, menyusun pertanyaan, dan membaca hasil wawancara dengan perspektif syariah,” tuturnya.
Kegiatan ini menghasilkan beberapa capaian penting. Pertama, mahasiswa memperoleh pemahaman awal tentang metodologi riset kualitatif berbasis syariah. Kedua, dosen dan mahasiswa memiliki peluang untuk mengembangkan topik riset bersama antara Indonesia dan Uzbekistan. Ketiga, forum ini membuka ruang bagi penyusunan artikel ilmiah kolaboratif di bidang ekonomi syariah.
Departemen Ekonomi Katakurgan State Pedagogical Institute menyambut kegiatan ini sebagai langkah konkret dalam memperkuat kerja sama akademik internasional. Melalui workshop dan FGD tersebut, kolaborasi antarkampus tidak hanya berhenti pada dokumen kerja sama, tetapi mulai bergerak pada kegiatan akademik yang memiliki luaran jelas.
Bagi UM Gresik, kegiatan ini menjadi bagian dari penguatan peran dosen dalam jejaring akademik global. Kehadiran Dr. Tumirin di Katakurgan menunjukkan bahwa kerja sama internasional dapat diarahkan pada pengembangan metodologi, pertukaran pengetahuan, dan peningkatan kualitas publikasi.
Melalui kegiatan ini, kedua institusi berharap lahir riset-riset baru yang mampu mempertemukan ekonomi syariah, pengalaman sosial, teknologi, dan nilai tauhid. Dengan demikian, kerja sama akademik antara Indonesia dan Uzbekistan tidak hanya memperkuat hubungan kelembagaan, tetapi juga memberi kontribusi terhadap pengembangan ilmu ekonomi yang lebih etis, kontekstual, dan berorientasi pada kemaslahatan.
📌 Informasi lebih lanjut:
🌐 Website: www.umg.ac.id
📱 Instagram: @um_gresik
📺 YouTube: UM_GRESIK
Credit by Wakil Rektor 2 UM Gresik