UMGNews, KATTAKURGAN, 28 April 2026 — Implementasi kerja sama akademik antara Universitas Muhammadiyah Gresik dan Kattakurgan State Pedagogical Institute kembali berlanjut melalui kegiatan team teaching pembelajaran bersama di Kattakurgan State Pedagogical Institute, Uzbekistan, pada Selasa, 28 April 2026. Kegiatan ini mengangkat dua isu penting dalam pendidikan tinggi, yakni English for Academic Purposes dan language testing strategy, sebagai bekal mahasiswa untuk menghadapi tuntutan akademik global.

Kegiatan tersebut melibatkan dosen Kattakurgan State Pedagogical Institute, Dr. Sherzod Yuldashev, bersama tim akademik Universitas Muhammadiyah Gresik. Dari UM Gresik, hadir Prof. Dr. Khoirul Anwar yang membawakan materi tentang English for Academic Purposes atau EAP, serta Paulina, M.Pd. yang menyampaikan pembelajaran mengenai strategi pengujian bahasa.
Dalam sesi pembelajaran, Prof. Khoirul menekankan bahwa kemampuan berbahasa Inggris di perguruan tinggi tidak dapat berhenti pada percakapan sehari-hari. Materi EAP yang dibawakan menempatkan bahasa Inggris sebagai perangkat akademik untuk membaca teks kompleks, mengevaluasi bukti, menulis secara jernih, menyampaikan gagasan secara meyakinkan, dan merespons umpan balik secara kritis. Dalam bahan ajar yang digunakan, EAP juga ditegaskan bukan sebagai mata kuliah tambahan semata, melainkan bagian dari infrastruktur pendidikan tinggi yang menopang kemampuan membaca, menulis, berbicara, dan berpikir kritis mahasiswa.
“Mahasiswa tidak cukup hanya mampu berbicara dalam bahasa Inggris. Mereka perlu mampu membaca argumen akademik, mengenali bukti, menulis dengan integritas, dan menyampaikan gagasan secara bertanggung jawab. Itulah esensi EAP dalam pendidikan tinggi,” ujar Prof. Khoirul dalam sesi tersebut.
Menurut Prof. Khoirul, EAP menjadi semakin penting karena mahasiswa hari ini hidup dalam arus informasi yang sangat deras. Karena itu, kemampuan membedakan fakta, opini, bias, dan argumen lemah menjadi bagian dari literasi akademik yang harus dibangun sejak dini. Dalam konteks kerja sama internasional, EAP tidak hanya dipahami sebagai keterampilan bahasa, tetapi juga sebagai pembentukan karakter intelektual mahasiswa.
Sesi berikutnya dipandu oleh Paulina, M.Pd., yang membahas language testing strategy. Ia menjelaskan bahwa tes bahasa tidak boleh dipahami sekadar sebagai alat memberi nilai, tetapi sebagai instrumen akademik untuk membaca kebutuhan belajar mahasiswa secara lebih tepat. Dalam materi yang digunakan, tes bahasa dijelaskan sebagai alat untuk mengukur kemampuan bahasa mahasiswa, dengan syarat harus akurat, konsisten, jelas, dan praktis.
Paulina juga menguraikan berbagai jenis tes bahasa, mulai dari placement test, diagnostic test, achievement test, hingga proficiency test. Keempatnya memiliki fungsi berbeda: menempatkan mahasiswa pada level yang sesuai, mengenali kekuatan dan kelemahan belajar, mengukur hasil pembelajaran, serta menilai kemampuan bahasa secara umum. Materi tersebut menegaskan bahwa pemilihan tes yang tepat dapat membantu dosen memperbaiki proses pembelajaran dan mendukung perkembangan kemampuan mahasiswa secara lebih terarah.
“Strategi pengujian bahasa yang baik membantu dosen memahami mahasiswa secara lebih adil. Tes bukan hanya soal angka, melainkan juga tentang diagnosis, pemetaan kemampuan, dan perbaikan pembelajaran,” kata Paulina.

Dr. Sherzod Yuldashev, dosen Kattakurgan State Pedagogical Institute yang terlibat dalam kegiatan tersebut, menyambut baik pola team teaching ini. Menurutnya, pembelajaran bersama antara dosen lokal dan dosen mitra internasional memberi pengalaman akademik yang lebih hidup bagi mahasiswa. Ia menilai mahasiswa tidak hanya menerima materi, tetapi juga melihat bagaimana isu bahasa akademik dan pengujian bahasa dibahas dari perspektif lintas institusi.
“Team teaching seperti ini memberi manfaat besar karena mahasiswa dapat belajar dari dua tradisi akademik yang saling melengkapi. Kegiatan ini berjalan dengan baik dan membuka ruang dialog yang produktif antara dosen dan mahasiswa,” ujar Dr. Sherzod.
Kegiatan tersebut juga menjadi penanda bahwa kerja sama UM Gresik dan Kattakurgan State Pedagogical Institute bergerak pada level implementasi yang lebih nyata. Jika seminar internasional memperkuat jejaring kelembagaan, maka team teaching menghadirkan dampak langsung di ruang kelas. Mahasiswa menjadi penerima manfaat utama melalui pengalaman belajar internasional, diskusi akademik, serta pemahaman baru mengenai pentingnya bahasa Inggris akademik dan evaluasi pembelajaran bahasa.
Pada akhir kegiatan, sejumlah peserta menyampaikan testimoni mengenai luaran pembelajaran yang mereka peroleh. Salzadov menilai kegiatan ini memperluas cara pandangnya tentang bahasa Inggris di perguruan tinggi. Menurutnya, bahasa Inggris akademik bukan hanya persoalan kelancaran berbicara, melainkan kemampuan memahami teks ilmiah dan menyampaikan gagasan dengan struktur yang baik.
Veroza menyampaikan bahwa materi tentang strategi tes bahasa membantunya memahami mengapa setiap jenis tes memiliki tujuan berbeda. Ia menilai penjelasan mengenai placement, diagnostic, achievement, dan proficiency test membuat mahasiswa lebih sadar bahwa evaluasi pembelajaran harus dilakukan secara tepat dan tidak bisa disamaratakan.
Sementara itu, Selvina menyoroti pentingnya EAP bagi mahasiswa yang ingin melanjutkan studi, menulis karya ilmiah, atau mengikuti forum akademik internasional. Baginya, kegiatan ini memberi gambaran bahwa kemampuan akademik harus dibangun melalui kebiasaan membaca kritis, menulis terstruktur, dan menerima umpan balik.
Adapun Sabrina menilai kegiatan team teaching tersebut memberi pengalaman belajar yang berbeda karena mahasiswa dapat berinteraksi langsung dengan dosen dari dua institusi. Ia menyebut suasana pembelajaran berlangsung baik, terbuka, dan mendorong mahasiswa untuk lebih percaya diri dalam menggunakan bahasa Inggris untuk kebutuhan akademik.
Melalui kegiatan ini, Universitas Muhammadiyah Gresik dan Kattakurgan State Pedagogical Institute memperlihatkan bahwa internasionalisasi pendidikan tinggi tidak harus selalu hadir dalam bentuk seremoni besar. Di ruang kelas, internasionalisasi dapat tumbuh melalui pertukaran gagasan, pembelajaran bersama, dan penguatan kompetensi mahasiswa secara langsung.
Dari Kattakurgan, kerja sama akademik Indonesia–Uzbekistan itu bergerak pada pesan yang lebih mendasar: perguruan tinggi perlu menyiapkan mahasiswa bukan hanya agar mampu berkomunikasi, tetapi juga agar mampu berpikir, menulis, menguji, dan berkontribusi dalam percakapan akademik global.
📌 Informasi lebih lanjut:
🌐 Website: www.umg.ac.id
📱 Instagram: @um_gresik
📺 YouTube: UM_GRESIK
Credit by Rektor UM Gresik