Tak Pernah Pulang Kampung, Anak Migran Ini Diajak FKIP UM Gresik Mengenal Budaya Asal

MALAYSIA – Bagi sebagian anak pekerja migran Indonesia di Malaysia, kampung halaman orang tua mereka di Gresik hanyalah cerita. Tak sedikit dari mereka yang belum pernah menginjakkan kaki di tanah asal. Melihat kondisi tersebut, Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Muhammadiyah Gresik (UM Gresik) menghadirkan kegiatan pengabdian masyarakat yang menyentuh sisi emosional anak-anak melalui pengenalan budaya lokal dan pembelajaran kreatif di Sanggar Bimbingan Al Amin Sentul, Malaysia.

pgsda1.jpeg (241 KB)

Melalui dosen Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD), FKIP UM Gresik mengenalkan Damar Kurung, seni tradisi khas Gresik yang sarat nilai budaya dan sejarah. Anak-anak diajak mengenal Damar Kurung melalui cerita, gambar, dan aktivitas visual yang mudah dipahami. Bagi anak-anak pekerja migran asal Gresik, kegiatan ini menjadi momen berharga untuk membangun kedekatan emosional dengan budaya daerah asal yang selama ini hanya mereka dengar dari cerita keluarga.

Dekan FKIP UM Gresik, Dr. Nur Fauziyah, M.Pd., menyampaikan bahwa budaya lokal dapat menjadi media pendidikan yang kuat dan menggembirakan. “Damar Kurung bukan sekadar seni, tetapi sarana membangun rasa bangga anak-anak terhadap identitas daerah dan bangsa. Budaya menjadi jembatan emosional bagi anak-anak yang tumbuh di perantauan,” ujarnya.

pgsda.jpeg (240 KB)

Tak berhenti pada penguatan budaya, FKIP UM Gresik juga menghadirkan pembelajaran STEAM (Science, Technology, Engineering, Arts, and Mathematics) yang dikemas secara inovatif dan menyenangkan. Kegiatan ini dipandu oleh Nataria Wahyuning Subayani, M.Pd., dosen PGSD FKIP UM Gresik, yang mengajak anak-anak belajar melalui aktivitas sederhana berbasis eksplorasi dan praktik langsung. Pendekatan ini mendorong anak-anak untuk berpikir kreatif, logis, dan berani mencoba.

Menurut Dr. Nur Fauziyah, pengenalan pembelajaran abad ke-21 penting diberikan sejak dini, termasuk bagi anak-anak diaspora Indonesia. “Pembelajaran STEAM membantu anak-anak belajar secara aktif dan kontekstual. Ini sejalan dengan komitmen FKIP UM Gresik untuk menghadirkan pendidikan yang bermakna dan relevan dengan perkembangan zaman,” jelasnya.

pgsda2.jpeg (214 KB)

Dari pihak sanggar, Shohenuddin, M.Ed., mengapresiasi kegiatan tersebut dan menilai pendekatan budaya dan STEAM sangat tepat bagi anak-anak. “Anak-anak sangat antusias. Mereka tidak hanya belajar, tetapi juga merasa dekat dengan cerita dan budaya asal keluarganya. Kegiatan seperti ini sangat membantu meningkatkan kualitas pembelajaran di sanggar,” tuturnya.

Melalui kegiatan ini, FKIP Universitas Muhammadiyah Gresik menegaskan perannya dalam menghadirkan pendidikan yang menyentuh hati—menguatkan identitas, menumbuhkan kreativitas, dan menjaga keterhubungan anak-anak pekerja migran dengan budaya asal, meski tumbuh jauh dari kampung halaman.

📌 Informasi lebih lanjut:
🌐 Website: www.umg.ac.id
📱 Instagram: @um_gresik
📺 YouTube: UM_GRESIK

Credit by Humas UM Gresik