KUALITAS UDARA JAKARTA BURUK, PERNAFASAN SEMAKIN TERPURUK

Oleh: Dwi Faqihatus Syarifah Has, S. KM, M. Epid

Dosen Prodi Kesehatan Masyarakat

 

Akhir akhir ini masalah buruknya kualitas udara di Jakarta semakin memprihatinkan. Berdasarkan hasil uji petik, nilai Suspended Particulated Matter (SPM) di Jakarta menunjukkan "masalah serius" berdasarkan ukuran Badan Kesehatan Dunia (WHO). SPM merupakan partikel halus berasal dari pembakaran bahan bakar fosil yang melayang di udara dalam jangka waktu yang relatif lama. Partikel yang umumnya terdiri dari kalium, cadnium, air raksa dan logam berat lainnya dapat berpengaruh pada kesehatan manusia jika terhirup. Risikonya gangguan sistem saraf pusat, hipertensi, iritasi mata-hidung-tenggorokan, penyakit paru, hingga gangguan sistem reproduksi.

WHO memberikan patokan di satu wilayah tidak boleh memiliki Particulated Matter atau polutan halus berukuran jari-jari 2,5 mikro meter (PM 2,5) melebihi 5 mikrogram (µg) per meter kubik (m3) dalam rata-rata per tahun. Berdasarkan pantauan IQAir per 15 Agustus 2023, rata-rata polutan halus yang beredar di udara Jakarta sebanyak 45,3 mikrogram (µg) per meter kubik (m3). Angka ini sembilan kali lebih besar dari ambang batas yang ditentukan WHO (PM 2,5). Artinya, kualitas udara ini tidak sehat bagi kelompok sensitif.

Menurut studi yang dipublikasi Energy Policy Insitute (EPIC) dari Universitas Chicago, dalam 10 tahun terakhir terjadi peningkatan polutan halus di udara Jakarta dan sekitarnya meningkat hingga 30%. Dengan kondisi tersebut, lembaga ini memperkirakan usia harapan hidup penduduk Jakarta dan sekitarnya yang bisa berkurang 2,6 tahun. Usia harapan hidup ini dibandingkan ketika penduduknya bisa menghirup udara dengan standard PM 2,5 dari WHO.

Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengatakan polusi udara yang buruk ikut "memfasilitasi" kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) pada anak. IDAI menyebut polusi udara sebagai "pembunuh senyap" yang risikonya mematikan, dan harus ditangani dari sumbernya. ISPA adalah infeksi yang terjadi pada sistem saluran pernapasan, baik saluran bagian atas maupun bagian bawah. ISPA merupakan salah satu dari 10 penyakit teratas di negara berkembang yang umumnya menyerang bayi dan anak kecil.

Berdasarkan laporan Kementerian Kesehatan penyebab ISPA berasal dari 300 jenis bakteri, virus dan rakhitis. Bakteri agen penyebab infeksi saluran pernapasan akut termasuk streptokokus, stafilokokus, pneumokokus, Haemophilus influenzae, Bordetella dan Corynebacterium. Virus yang menyebabkan ISPA antara lain myxovirus, adenovirus, coronavirus, Picornavirus, Myxoplasma, Herpesvirus dan lain-lain. Badan PBB untuk masalah anak (UNICEF) pernah mengeluarkan penelitian yang menunjukkan sebanyak 600.000 anak meninggal setiap tahunnya karena pneumonia dan penyakit pernapasan lainnya. Polusi udara disebut faktor utamanya.

Sejauh ini IDAI masih mendata jumlah kasus ISPA pada anak dari jaringan dokternya di daerah-daerah Indonesia di tengah laporan buruknya kualitas udara di kota-kota besar Indonesia. Anak-anak lebih rentan dari kelompok usia yang lain karena secara fisiologis mereka bernapas dengan laju napas yang lebih besar. ISPA dapat memberikan dampak kesehatan jangka pendek dan jangka panjang. Dampak jangka pendek adalah gangguan pernapasan hingga menyebabkan pneumonia yang berujung pada asma. Jika tidak tertangani dengan baik, jangka panjangnya bisa berpengaruh pada persoalan tumbuh kembang anak, seperti stunting, gangguan kecerdasan, gangguan mental, gangguan motorik, dan gangguan tingkah laku.

Benahi dari hulunya: sumber-sumber polusi udara baik yang berasal dari kendaraan bermotor, mesin pabrik, pembangkit listrik sampai asap rokok di lingkungan masyarakat. Sejumlah kiat bagi orang tua agar untuk mengurangi risiko anak terpapar polusi udara, diantaranya adalah: tinggal di dalam rumah sejauh mungkin dari wilayah berpolusi udara tinggi, upayakan anak beraktivitas di lingkungan masing-masing, tak perlu jauh-jauh, menggunakan masker di luar, saat polusi udara tinggi, hindari aktivitas fisik berlebihan, makan makanan sehat untuk meningkatkan imunitas, letakan tanaman di dalam rumah untuk pemurnian udara, minum cukup air putih, untuk membilas racun dalam tubuh, gunakan gorden tebal dan hilangkan kebiasaan membakar sampah.