BISAKAH KITA BERSAHABAT DENGAN DIABETES MELLITUS ?

Oleh : Amalia Rahmah, S.Gz, M.Si

Kaprodi Gizi Fakultas Kesehatan UMG

Siapa yang tidak kenal dengan penyakit diabetes melitus. Di tengah-tengah masyarakat, penyakit ini lebih popular disebut penyakit kencing manis. Diabetes melitus terjadi akibat dari tubuh tidak menghasilkan cukup insulin (hormon yang mengatur glukosa/gula darah), atau ketika tubuh tidak dapat secara efektif menggunakan insulin yang dihasilkan. Seseorang yang mengalami diabetes melitus ditandai dengan tingginya kadar glukosa darah. Setiap tahun prevalensi penyandang diabetes selalu meningkat, setidaknya pada tahun 2019 diperkirakan terdapat 463 juta orang usia 20-79 tahun di seluruh dunia merupakan penyandang diabetes melitus. Angka ini diperkirakan akan terus bergerak naik hingga mencapai 578 juta di tahun 2030.

Dampak diabetes menyebabkan usia harapan hidup seseorang berkurang 5-10 tahun atau dengan kata lain mengakibatkan kematian dini di seluruh dunia. Gula darah yang lebih tinggi dari batas maksimum mengakibatkan jumlah kematian bertambah 2,2 juta jiwa. Persentase kematian yang disebabkan oleh diabetes yang terjadi sebelum usia 70 tahun lebih tinggi di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah daripada di negara-negara berpenghasilan tinggi.

Di masa pandemi seperti sekarang ini, penyandang diabetes melitus semakin perlu berhati-hati. Beberapa studi dan kasus telah melaporkan diabetes melitus merupakan factor resiko terpapar Covid-19. Hasil penelitian menyebutkan pasien Covid-19 yang disertai dengan diabetes melitus mengalami gejala berat dan tingkat kematian yang lebih tinggi.

Penyakit diabetes melitus ini merupakan penyakit yang permanen dengan kata lain jika seseorang sudah dinyatakan mengalami diabetes melitus maka penyakit ini akan menetap seumur hidup pada orang tersebut. Penyakit diabetes melitus sejatinya tidak dapat disembuhkan total. Namun tidak perlu khawatir, penyakit ini bisa dikontrol supaya tidak semakin parah dan menimbulkan komplikasi penyakit yang lain. Sehingga, diharapkan penderita tetap hidup normal tanpa muncul gejala diabetes yang mengganggu.

Bagaimana cara mengontrol penyakit ini? Hal utama yang perlu dikontrol oleh penyandang diabetes adalah kadar gula darah. Gula darah yang tidak terkontro merupakan cikal bakal munculnya komplikasi yang memperberat kondisi diabetes melitus. Penyandang diabetes melitus perlu untuk berkompromi untuk mengontrol gula darah dengan beberapa cara berikut ini :

1. Menjaga asupan makan

Penyandang diabetes melitus dapat mengikuti pedoman 3J untuk mengontrol asupan makan yaitu tepat Jenis, tepat Jumlah dan tepat Jadwal. Berdasarkan “Jenis”, penting untuk diperhatikan, jenis-jenis makanan  dapat menyebabkan peningkatan gula darah dengan cepat. Penyandang diabetes disarankan untuk mengonsumsi makanan dengan nilai indek glikemik yang rendah seperti beras merah, gandum, jagung, sorgum, ubi jalar dan lain-lain dan membatasi makanan berindek glikemik tinggi seperti makanan-makanan manis (gula pasir, roti, cake, biskuit, ice cream), mie, spageti dan lain-lain. Selain jenis juga perlu memperhatikan cara memasak. Salah satu kebiasaan buruk yang dapat menyebabkan nilai indek glikemik makanan menjadi tinggi yaitu memanaskan makanan berulang atau dipanaskan dalam waktu yang lama contohnya memanaskan nasi dalam magic jar lebih dari 12 jam. Dari segi “Jumlah”, setiap penyandang diabetes perlu untuk memperhatikan jumlah makanan yang dikonsumsi. Tidak boleh teralu sedikit dan tidak boleh kebanyakan. Kebutuhan kalori untuk diabetes dalam sehari berkisar antara 1500 – 2500 kkal perhari. Jumlah ini menyesuaikan dengan kondisi seperti  usia, berat badan, aktivitas dan faktor stress. Untuk membantu agar tidak berlebihan dalam konsumsi makanan, diabetisi perlu untuk mengatur Jadwal makan atau dengan kata lain, tidak boleh makan sebelum waktu yang disepakati.

2. Berolahraga dengan Rutin

Olahraga dapat membantu penyandang diabetes untuk menjaga berat badan, membakar kalori, menurunkan kekebalan terhadap hormon insulin dan menjaga kadar gula darah tetap dalam keadaan normal. Pilih olahraga sesuai dengan kemampuan tubuh. Perlu diingat olahraga secukupnya asal rutin. Jangan terlalu memaksakan olahraga berat karena akan berbahaya bagi tubuh. Jika tubuh terlalu kelelahan (bekerja terlalu berat) dapat mengakibatkan gula darah turun drastis atau disebut hipoglikemia.

3. Mengelola stress.

Stres berperan besar dalam ketidakseimbangan gula darah. Stres dapat memicu resistensi insulin, meningkatkan berat badan, meningkatkan peradangan, dan akhirnya dapat memperburuk kondisi penyandang diabetes melitus.

4. Berkonsultasi dengan ahli gizi dan dokter

Penyandang diabetes dapat mengunjungi ahli gizi untuk mengonsultasikan asupan makan. Ahli gizi akan membantu untuk membuatkan menu makan sesuai dengan kebutuhan perorangan serta memberikan nasehat gizi terkait makanan yang boleh serta dibatasi untuk dikonsumsi. Selain ahli gizi, penyandang diabetes juga perlu untuk melakukan kunjungan ke dokter untuk mendapatkan pemeriksaan. Dokter akan melakukan pemeriksaan penting terkait gula darah dan fungsi organ tubuh yang lain. Langkah penanganan ini ditujuan sebagai upaya pencegahan diabetes agar tidak menjadi semakin parah. Pasalnya, jika kondisi diabetes disepelekan dan dibiarkan tanpa penanganan maka besar risiko terjadinya komplikasi penyakit yang lebih mematikan.


19 January 2022
“BONEKA ARWAH (SPIRIT DOLL)” FENOMENA KEGERSANGAN ILMU DAN IMAN
14 January 2022
AUM SEBAGAI LADANG DAKWAH DAN AMAL SALEH
02 January 2022
AWAL TAHUN, HARUSKAH AWAL RESOLUSI BARU?