New Normal: New Mental Model

Dr. Suyoto M.Si
(Dosen Universitas Muhammadiyah Gresik)


Saya percaya covid 19 ini adalah buah ketidak seimbangan alam semesta. Matinya beberapa  mikroba dan munculnya varian virus baru merupakan respon atas bumi yang sejak tahun 1950an konsisten semakin panas. Co2 yang terus digelontorkan manusia ke alam ini membuat ada makhluk lain yang terdesak, punah, tapi ada juga yang bertahan, beradaptasi dan bermutasi menjadi varian baru. Manusia belum familier dengan varian baru tersebut, banyak yang roboh.
Sejak revolusi industri berlangsung, manusia telah mengambil jatah 1,7 kali lebih besar dibanding dengan sumberdaya yang disediakan bumi. Akibatnya kemampuan bumi mengelola limbah manusia berkurang, suhu naik, keseimbangan baru sedang terbentuk. Covid 19 berhasil memaksa manusia menghijaukan langitnya. Tercatat rekord langit terbiru terjadi di India sejak 40 tahun terakhir.

New Normal: new norms, Norma (tanpa L) baru

Mari buang jauh jauh pikiran ingin hidup kembali seperti sebelum pandemi. Cara hidup umat manusia model lama jelas membahayakan eksistensi dirinya dan lingkungannya. Cara hidup eksploitatif, mengabaikan keseimbangan alam dan sosial harus diganti dengan cara cara harmonis, dqn kollaboratif. Manusia tidak hanya harus saling berempati dengan sesamanya, tapi juga makhluk lain di bumi, hutan, lautan, dan udara. Sepatutnya manusia menyadari bahwa bumi hutan lautan tidak membutuhkan manusia tetapi manusialah yang membutuhkan mereka.

Mental model memproduksi keuntungan diri sendiri harus diubah dengan kesadaran dan aksi pembatasan sekaligus perbaikan. Aktifitas produksi dan konsumi manusia harus diberi lampu kuning dan merah, sehingga tahu kapan harus ngerem dan berhenti.

Ajakan para politisi untuk merestart ekonomi dengan memasuki new normal sebaiknya bukan hanya  usaha mengeluarkan rakyat dari belenggu pembatasan sosial yang ketat. New normal bukan hanya aktifitas ekonomi dan sosial dengan protocol kesehatan yang ketat, sementara mental eksploitatif tetap membara. Jangan sampai upaya eksploitatif atas sumberdaya alam masih terus berlanjut dengan digantikan mesin atau robot. Jangan sampai manusia tidak lagi peka akan apa yang dikonsumi dan limbah racun atau plastik buah dari aktifitasnya yang membenani dunia, merusak keseimbangan terus berlangsung.

Inilah monentun yang tepat membangun kembali kualitas hubungan vertikal dan horizontal. Kualitas hubungan manusia dengan alam,  dengan sesama manusia dan dengan Tuhannya. Sebuah kualitas hubungan yang bertumpu pada keseimbangan dan harmoni. Tengok kembali  narasi berbagai keyakinan keagamaan. Dalam tradisi muslim dikenal dengan hablum minallah, hablum minal alam dan hablum minannas untuk wujudkan rahmatan lil'alamin,  Trihita Karana dalam tradisi Bali, mewayu rahayuning buwono dalam budaya Jawa, dan hadirnya kerajaan Tuhan yang penuh kasih sayang bagi umat Kristiani.
Narasi ini sungguh tepat menjadi pemantik kesadaran diri dan sosial kita sebagai umat manusia.

Ayo kita wujudkan new normal untuk mengembalikan keseimbangan dan harmoni. Better business better life,  better world  in action. Inilah bentuk nyata pertaubatan umat manusia!


01 September 2020
Tantangan Pendidikan Anak di Masa Pandemi
14 August 2020
Opini hukum terhadap dana bantuan sosial pemerintah bagi karyawan swasta bergaji rendah
26 June 2020
Menjawab Keraguan Guru di Masa Pendemi Covid-19