Menjawab Keraguan Guru di Masa Pendemi Covid-19

Oleh: Arissona Dia Indah Sari, M.Pd
Dosen PGSD Universitas Muhammadiyah Gresik.

Meningkatnya jumlah kasus covid-19 mendapat perhatian serius dari pemerintah pusat maupun daerah. Kebijakan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) dikeluarkan untuk menekan angka penyebaran virus. Salah satu kebijakan pemerintah terkait PSBB yakni diliburkannya sekolah.

Yang dimaksud dengan hal ini sebenarnya adalah menghentikan proses belajar mengajar di sekolah dan menggantinya dengan proses belajar mengajar di rumah dengan media yang paling efektif. Namun, kebijakan ini menimbulkan persepsi ganda di kalangan kepala sekolah dan guru.


Dari hasil wawancara yang telah penulis lakukan dengan beberapa kepala sekolah dan guru yang tersebar di wilayah terpencil menunjukkan bahwa mereka memiliki cara masing-masing. Ada yang memilih meliburkan secara penuh ada juga yang memilih mendatangi rumah siswa satu persatu. Sebab, rata-rata siswa masih belum memiliki gadget.


Berbeda dengan guru-guru yang mengajar di kota. Mereka lebih terampil dan kreatif dalam mengelola pembelajaran daring melalui gawai. Hampir semua siswa di sekolah perkotaan sudah memiliki gadget. Sehingga memudahkan guru dalam mengajar dengan metode daring. Selain itu, baik guru di wilayah terpencil maupun perkotaan sama-sama memiliki permasalahan terkait pola penilaian hasil belajar siswa. Apakah peroleh nilai siswa ini murni dari hasil kemampuan berpikir siswa ataukah dengan bantuan orang tua, maupun saudara siswa.


Untuk menjawab keraguan para guru terkait penilaian, penulis menawarkan beberapa alternatif solusi yang bisa diterapkan oleh guru. Untuk wilayah terpencil, guru bisa melakukan penilaian dengan mengunjungi siswa secara door to door (dari rumah ke rumah). Selain untuk menyampaikan materi, guru juga melakukan penilaian pada ranah kognitif siswa. Guru bisa memantau langsung proses siswa dalam mengerjakan tugas. Untuk penilaian afektif dan psikomotor, guru juga bisa bekerja sama dengan orang tua siswa untuk terus memantau perkembangan sikap dan keterampilan siswa saat di rumah. Guru menyampaikan instrumen penilaian afektif dan psikomotor yang harus dilakukan oleh orang tua siswa selama satu minggu ke depan.


Selain itu, pada saat kunjungan ke rumah siswa, guru juga meminta laporan perkembangan afektif dan psikomotor siswa sejak pertemuan sebelumnya sampai saat kunjungan selanjutnya. Sementara untuk siswa yang bersekolah di wilayah perkotaan solusi penilaian pembelajaran, bisa dengan pemberian tes melalui google form atau microsoft 365. Untuk memastikan hasil pekerjaan siswa itu murni, tanpa bantuan dari siapapun, orang tua diminta memvideokan siswa saat mengerjakan tes dengan memperlihatkan siswa dan soal yang dikerjakan. Pengiriman video harus segera sesaat setelah pengerjaan tes berakhir. Guru memastikan waktu terkumpulnya tugas bersamaan dengan pengumpulan video.


Kemudian untuk kompetensi keterampilan yang hendak dievaluasi, guru meminta dokumentasi berupa video melakukan pemecahan masalah, dan lain-lain.


Tidak lupa, guru perlu bekerja sama dengan orang tua untuk memberikan reward (hadiah) jika siswa melakukan tugasnya dengan baik dan punishment (hukuman) yang bersifat mendidik jika siswa melakukan kesalahan. Dari beberapa alternatif solusi yang ditawarkan penulis, semoga bisa bermanfaat dan bisa menjawab keraguan guru terkait penilaian hasil belajar yang diperoleh siswa serta dapat mengembangkan kemampuan siswa secara optimal di masa pandemi covid-19 ini.

(telah dimuat di Radar Gresik Edisi 18 juni 2020)


01 September 2020
Tantangan Pendidikan Anak di Masa Pandemi
14 August 2020
Opini hukum terhadap dana bantuan sosial pemerintah bagi karyawan swasta bergaji rendah
26 June 2020
Menjawab Keraguan Guru di Masa Pendemi Covid-19