Child Grooming dalam Perspektif Psikologi Klinis: Kejahatan Sunyi yang Sering Terlambat Disadari

Oleh : Ima Fitri Sholichah, S.Psi., M.A
Psikolog dan Akademisi Psikologi, Universitas Muhammadiyah Gresik

Child grooming merupakan bentuk kekerasan terhadap anak yang sering kali tidak disadari, baik oleh korban maupun oleh lingkungan sekitarnya. Tidak seperti kekerasan yang terjadi secara tiba-tiba dan terlihat jelas, grooming berlangsung perlahan, melalui interaksi yang tampak wajar, bahkan sering dianggap sebagai bentuk perhatian atau kepedulian. Justru karena tampilannya yang “normal” inilah, child grooming kerap luput dari kewaspadaan.

Dalam psikologi klinis, child grooming dipahami bukan sebagai satu tindakan tunggal, melainkan sebagai proses relasional yang sistematis. Pelaku secara sadar membangun kedekatan emosional dengan anak, menciptakan rasa aman yang semu, dan perlahan menurunkan kewaspadaan korban. Relasi yang dibangun tampak suportif, tetapi sesungguhnya diarahkan untuk menciptakan ketergantungan psikologis dan . membuat anak sulit membedakan antara hubungan yang aman dan hubungan yang eksploitatif.

Pada tahap awal, grooming biasanya tidak melibatkan perilaku seksual yang eksplisit. Pelaku justru memulai dengan membangun kepercayaan, memberikan perhatian khusus, serta memenuhi kebutuhan emosional anak yang mungkin tidak terpenuhi di lingkungan terdekatnya (Whittle et al., 2013). Anak merasa diperhatikan, dipahami, dan dianggap istimewa. Situasi ini membuat anak sulit mengenali bahwa dirinya sedang dimanipulasi.

Fenomena child grooming menjadi semakin kompleks di era digital. Media sosial menjadi salah satu ruang yang memungkinkan terbentuknya kedekatan emosional tanpa pengawasan langsung dari orang dewasa. Namun penting untuk dipahami bahwa grooming tidak hanya terjadi secara daring. Banyak kasus justru berlangsung dalam relasi tatap muka di lingkungan yang dianggap aman secara sosial, seperti sekolah, komunitas olahraga, atau institusi keagamaan (McAlinden, 2012).

Dari sudut pandang psikologi klinis, grooming sangat terkait dengan ketimpangan kekuasaan. Pelaku memanfaatkan perbedaan usia, otoritas, dan kematangan emosional untuk mengendalikan relasi. Anak berada pada posisi yang lebih rentan dan cenderung mempercayai figur yang lebih dewasa atau berotoritas, sehingga relasi menjadi tidak seimbang dan mudah dimanipulasi. Proses ini juga berkaitan erat dengan kebutuhan perkembangan anak. Berdasarkan teori attachment, anak secara alami membutuhkan figur yang responsif, konsisten, dan memberikan rasa aman (Bowlby, 1988). Pelaku grooming memanfaatkan kebutuhan ini dengan memosisikan diri sebagai sosok yang “paling memahami” anak secara emosional. Dalam banyak kasus, relasi grooming menunjukkan pola trauma bonding, yaitu keterikatan emosional yang terbentuk melalui kombinasi perhatian, manipulasi, dan pelanggaran batas yang dilakukan secara bertahap (Dutton & Painter, 1993).

Ciri khas lain dari child grooming adalah normalisasi pelanggaran batas. Pelanggaran tidak terjadi sekaligus, melainkan secara perlahan dan bertahap. Hal-hal yang awalnya terasa tidak nyaman lama-kelamaan dianggap wajar, karena dibingkai sebagai bentuk kasih sayang atau perhatian khusus. Akibatnya, anak sering mengalami kebingungan emosional dan konflik batin. Tidak jarang korban bahkan membela pelaku atau merasa bersalah atas apa yang terjadi.

Dampak psikologis child grooming sering kali tidak langsung terlihat. Banyak korban baru merasakan dampaknya dalam jangka panjang, seperti kesulitan mengatur emosi, gangguan kepercayaan dalam relasi interpersonal, kecemasan yang menetap, hingga gejala gangguan stres pascatrauma (Herman, 1992; Trickett, Noll, & Putnam, 2011). Dampak ini sering menjadi lebih jelas ketika individu memasuki masa remaja akhir atau dewasa awal, saat mulai membangun relasi intim dan identitas diri.

Berikut 5 langkah praktis untuk terhindar dari child grooming:

  1. Dengarkan perasaanmu. Kalau ada orang yang membuatmu tidak nyaman, meski terlihat baik, perasaan itu penting dan perlu didengarkan.
  2. Kamu berhak berkata “tidak”. Kamu boleh menolak sentuhan, ajakan, atau permintaan apa pun yang membuatmu tidak nyaman (tanpa harus merasa bersalah).
  3. Jangan simpan rahasia yang membuatmu takut. Jika ada orang yang meminta menyimpan rahasia yang membuatmu bingung atau takut, segera ceritakan pada orang dewasa yang kamu percaya.
  4. Hati-hati dengan orang yang memberi perhatian berlebihan. Hadiah, pujian, atau chat terus-menerus bisa jadi tanda bahaya jika membuatmu merasa tertekan atau tergantung.
  5. Cerita itu bukan mengadu. Bercerita adalah cara melindungi diri, bukan kesalahan. Kamu tidak akan dimarahi karena jujur.

Oleh karena itu, dalam psikologi klinis, child grooming dipandang sebagai persoalan relasional dan kesehatan mental yang kompleks. Penanganannya tidak cukup hanya melalui pendekatan hukum atau moral, tetapi memerlukan intervensi berbasis trauma yang memahami dinamika relasi, tahap perkembangan anak, serta kebutuhan pemulihan jangka panjang. Pemahaman yang utuh mengenai child grooming menjadi fondasi penting untuk pencegahan, asesmen klinis, dan pendampingan yang benar-benar berpihak pada pemulihan anak.